Shubuh…shubuh….buh…buh…buh…” suara lembut yang biasa membangunkan kami untuk bersiap ‘pindah tidur’ ke mesjid, itu suara khas Syeikh Muhtarom, kakak tiri Prof. Shiddiq. Saking halus cara ia membangunkan kami, justru membuat kami semakin nyenyak tidur, terlebih ketika jam dinding berwarna kuning di ruangan menunjuk pada angka 4, telinga kamipun dikencingi syetan secara berjamaah, sehingga membuat kami selalu kalah telak dan tidur lagi!
“ Qum…qum…qum….istaiqid ayyuha rijaal!!!!” lain cerita dengan suara itu, lantang dan keras, disertai sorotan lampu senter pula. Ustadz. Budhi, Pembina jabatanya kala itu, seksi membangunkan bangun shubuh lima belas menit sebelum si Rizal kumandanagkan adzan shubuh, pasca kewalahanya Ustadz.Dera dan Ustadz.Wildan yang selalu tampak emosional saat membangunkan kami, ma’lum mereka masih muda dan belum menikah kala itu, jadi darahnya masih darah muda, masih berapi-apimenurut syair lagu Bang haji.
Kami terpaksa bangun menuju hamam (kamar mandi) yang yang pasti penuh sesak. Dengan segala macam cara akhirnya kami bisa masuk masjid tepat waktu, setidaknya sebelum qomat dan tidak masbuk. Masbuk menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kami, bukan urusan pahala atau keutamaan sholat, tapi karena tak jarang al masbuqiin dihukum, minimalnya disuruh baca makalah yang dibagikan, dan akan lebih berat jika ditambah tak pakai helm sholat (kehed; peci). Bisa-bisa kami disuruh berdiri diantara lipatan kaki santri yang lain. Dan biasanya penderitaan tak cukup sampai disana, rois selalu hadir dalam kondisi menyesakan seperti ini, mereka pesta di pagi hari, pesta menghukum anak orang.
Dan Cepkur termasuk santri yang sering masbuq saat shubuh, mungkin karena ia terlampau menikmati tidurnya. Seingatku Aku tak pernah melihat ia tak nyenyak saat tidur, bahkan tidurnya bermula dari kelas tempat kami belajar malam, pipinya telah menempel di meja jauh sebelum waktu belajar selesai. Dan kalaupun tak masbuq, keningnya yang terbungkus peci berwarna pink telah tersandar nikmat di dinding masjid, biasanya saingan sama si Ohim dan si Kresna, tak luput pula si Epul. Dan kehidupan sepanjang shubuh disana tak jauh dari kebiasaan itu, hanya saja pemerannya diganti, lebih tepatnya bertambah.
Tapi aku yakin di shaf belakangpun hal yang serupa terjadi, buktinya aku pernah menjadi saksi terpejamnya mata si Ernia saat kuliah shubuh, dengan menyandarkan kepala ke tembok sebelah pinggir masjid, nikmat sekali, ketika tidur tak terlihat kegarangannya sama sekali, yang tersisa hanya wajah yang lembut nan lugu, rasanya tak mungkin muncul teriakan mirip Candil SEURIUS dari bibirnya yang mirip Cinta Laura itu.
Aktifitas kami berlanjut dengan menyerbu dapur tepat jam 6 pagi, saat bi Ati, penjaga dapur yang cantik nan baik membuka jendela tempat makanan, sangat mirip dengan tempat makan tahanan. Aku punya geng khusus dalam hal ini, aku, si Tarzan dan si Ovix, kami menamai diri kami dengan ‘The Becak’ atau ‘Tiga Serangkai’ karena kami selalu bertiga. Dan si Tarzan yang paling sering menemui bi Ati dengan piring hijaunya. Terkadang ia ditemani Cepkur yang diutus oleh si Candi dan kawan-kawan, ia juga Nampak akrab dengan bi Ati, bahasa sundanya memang bagus, ramah pula. Lain jika dibandingkan dengan si Sese yang selalu nawar ingin banyak nasi dan banyak pula lauknya, ditambah permintaanya diantarkan dengan bahasa yang gak jelas.
Jika dibandingkan, frekuensi antara aku dan Cepkur berkunjung ke dapur memang jauh berbeda, selain mengambilkan nasi bagi geng makannya, ia juga sering membawakan air minum untuk kami dengan kompan putih milik si Ohim/ si Kewel (yang kami anggap milik bersama) karena dikompan itu tercantum nama ‘SAPAL 67’, si Kewel dan Ohim sebagai anggota SAPALA dan aku juga yang lain mewakili angka 67nya. Jarang sekali aku membaca gurat ketidakikhlasan di wajahnya, kecuali jika disuruh oleh si Candi, sparring partnernya sejak DW. Atau disuruh oleh si Ary yang terkesan ‘memperbudaknya’, tapi dengan cara itulah mereka tampak semakin dekat. Dan Cepkurpun sangat menikmati penderitaanya itu, dengan selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh.
***
Keadaan kelas kali ini jelas berbeda, bukan saja karena ada banatnya, tapi letaknya yang juga startegis kufikir. Selain dekat ke B-Smart (nama baru kantin modern yang kini terima jasa laundry), kamipun tak usah melulu naik tangga yang berhadapan dengan toilet itu.
Dan proses perpindahan kelas menjadi bagian yang sangat menarik bagi kami (SAMBA-SEMUT), terang saja saat itu menjadi momen yang tepat untuk bertukar surat/buku cinta antara rijal dan banat, aku dan anjing edanku, si Candi an si Cinoy, si Epul dengan si Vestri, si Irfan dan si Vijul, dan masih banyak pasangan lainya yang masih menyimpan rapat hubungan mereka dengan status sahabat!
Dalam hal asmara, Cepkur memang tak seganas yang lain, fikiran gilaku sempat mengira dia h**o, karena rasanya ia tak pernah punya gelagat aneh tatkala bertemu makhluk berpayudara. Lain halnya dengan bang Nazar, pria tak bermata asal Serambi Mekah ini ‘nakal’ bukan buatan, aku pernah mendengar cerita jujur dari mulutnya, tentang kisah seks liarnya selama liburan DW yang kurang lebih dua bulan itu. Tak jarang pula ia memegang resleting celananya jika mengingat suara genit banat IPS yang iseng menggodanya selama di kelas. Si Cinoy dan si Ocha misalnya yang gemar menggodanya dengan sapaan manja dan merangsang.
Hanya saja sempat berkembang rumor dikelas sosial, ‘perjodohan’ antara Cepkur dan si Umi (Restina nama asli wanita mungil asli Ciawi Tasik ini), hal itu jelas menggugurkan anggapanku soal Cepkur tadi, karena reaksi yang Cepkur munculkan pun lumayan baik, indikasi bahwa ia senang diperlakukan seperti itu oleh kami. Keisengan kami pada Cepkur semakin menjadi, terlebih melihat reaksi si Umipun terkesan dingin dan datar, karena memang karakternya seperti itu, ramah dan tak pernah marah. Aku termasuk golongan orang yang merestui hubungan mereka, karena pribadi mereka yang relative sama, ditambah postur tubuh mereka yang juga seimbang, tak ayal seperti pasangan persahabatan abadi antara si Sese dan si Lia, gadis montok asal Padalarang, kusebut abadi karena memang statusnya tak kunjung berubah, masih saja bersahabat, padahal satu sama lain kuyakin saling memendam rasa.
Perjalanan di kelas IPS terbilang cukup mulus, setidaknya semenjak aku meninggalkan dunia perangkaan dan rumus yang ribet. Cepkurpun kulihat sangat menikmatinya, meski ternyata akhirnya kami dipaksa lagi bertemu angka dan rumus, tepatnya bersama Ust. Asep, pengajar yang miliki parfum wangi dan sampai detik ini belum kuketahui apa judulnya. Rasa nyaman yang ia hadirkan ketika mengajar perlahan menghapus keparanoidanku terhadap angka.
Seiring berjalanya waktu virus perpecahan mulai hadir hinggapi kekompakan kami, di SAMBA tepatnya. Kami terbagi kedalam beberapa golongan, kami tak pernah bersepakat untuk itu, tapi karena ada fase kehidupan yang memaksa kami senasib sepenanggungan maka akhirnya mengundang perpecahan itu, karena srigala tak mungkin mau berkelompok dengan ratusan kambing, sama halnya dengan kambing yang enggan untuk hidup ditengah-tengah himpunan srigala. Tapi akan ada pula lalat yang seolah tak punya masalah dengan kambing, dan tak mau berurusan pula dengan srigala, mereka cari aman, aku menyebutnya tak punya sikap!
Permasalahanya selesai berkat Tuhan hadirkan wanita ditengah-tengah kami, tanpa sadar mereka membantu selesaikan problem kami.
Masalah itu jelas membuat kami semakin dewasa dan bijak dalam menghadapi permasalahan hidup, setidaknya membuat kami berfikir bahwa ada banyak hati yang harus kami fikirkan sebelum urusi hati kami sendiri.
Dan akhirnya kami sadar bahwa persahabatan itu bukan retorika ala Soekarno yang menggebu-gebu, bukan pula kebersamaan dan keberadaan yang tak pernah lekang mirip keledai si Sherk, tapi persahabatan itu adalah sesuatu yang bersumber dari hati, dan akan diterima pula oleh hati karena persahabatn adalah kehati-hatian dalam memperhatikan hati.
The end. . .
Selalu untuk Sang Inspirator. . . .
Cecep Kurnia Nizwar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar