Senin, 06 Juni 2011

Saat Aku dan Cepkur Berbatik Hijau (III-Habis)


 Shubuh…shubuh….buh…buh…buh…” suara lembut yang biasa membangunkan kami untuk bersiap ‘pindah tidur’ ke mesjid, itu suara khas Syeikh Muhtarom, kakak tiri Prof. Shiddiq. Saking halus cara ia membangunkan kami, justru membuat kami semakin nyenyak tidur, terlebih ketika jam dinding berwarna kuning di ruangan menunjuk pada angka 4, telinga kamipun dikencingi syetan secara berjamaah, sehingga membuat kami selalu kalah telak dan tidur lagi!
            “ Qum…qum…qum….istaiqid ayyuha rijaal!!!!” lain cerita dengan suara itu, lantang dan keras, disertai sorotan lampu senter pula. Ustadz. Budhi, Pembina jabatanya kala itu, seksi membangunkan bangun shubuh lima belas menit sebelum si Rizal kumandanagkan adzan shubuh, pasca kewalahanya Ustadz.Dera dan Ustadz.Wildan yang selalu tampak emosional saat membangunkan kami, ma’lum mereka masih muda dan belum menikah kala itu, jadi darahnya masih darah muda, masih berapi-apimenurut syair lagu Bang haji.
            Kami terpaksa bangun menuju hamam (kamar mandi) yang yang pasti penuh sesak. Dengan segala macam cara akhirnya kami bisa masuk masjid tepat waktu, setidaknya sebelum qomat dan tidak masbuk. Masbuk menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kami, bukan urusan pahala atau keutamaan sholat, tapi karena tak jarang al masbuqiin dihukum, minimalnya disuruh baca makalah yang dibagikan, dan akan lebih berat jika ditambah tak pakai helm sholat (kehed; peci). Bisa-bisa kami disuruh berdiri diantara lipatan kaki santri yang lain. Dan biasanya penderitaan tak cukup sampai disana, rois selalu hadir dalam kondisi menyesakan seperti ini, mereka pesta di pagi hari, pesta menghukum anak orang.
            Dan Cepkur termasuk santri yang sering masbuq saat shubuh, mungkin karena ia terlampau menikmati tidurnya. Seingatku Aku tak pernah melihat ia tak nyenyak saat tidur, bahkan tidurnya bermula dari kelas tempat kami belajar malam, pipinya telah menempel di meja jauh sebelum waktu belajar selesai. Dan kalaupun tak masbuq, keningnya yang terbungkus peci berwarna pink telah tersandar nikmat di dinding masjid, biasanya saingan sama si Ohim dan si Kresna, tak luput pula si Epul. Dan kehidupan sepanjang shubuh disana tak jauh dari kebiasaan itu, hanya saja pemerannya diganti, lebih tepatnya bertambah.
            Tapi aku yakin di shaf belakangpun hal yang serupa terjadi, buktinya aku pernah menjadi saksi terpejamnya mata si Ernia saat kuliah shubuh, dengan menyandarkan kepala ke tembok sebelah pinggir masjid, nikmat sekali, ketika tidur tak terlihat kegarangannya sama sekali, yang tersisa hanya wajah yang lembut nan lugu, rasanya tak mungkin muncul teriakan mirip Candil SEURIUS dari bibirnya yang mirip Cinta Laura itu.
            Aktifitas kami berlanjut dengan menyerbu dapur tepat jam 6 pagi, saat bi Ati, penjaga dapur yang cantik nan baik membuka jendela tempat makanan, sangat mirip dengan tempat makan tahanan. Aku punya geng khusus dalam hal ini, aku, si Tarzan dan si Ovix, kami menamai diri kami dengan ‘The Becak’ atau ‘Tiga Serangkai’ karena kami selalu bertiga. Dan si Tarzan yang paling sering menemui bi Ati dengan piring hijaunya. Terkadang ia ditemani Cepkur yang diutus oleh si Candi dan kawan-kawan, ia juga Nampak akrab dengan bi Ati, bahasa sundanya memang bagus, ramah pula. Lain jika dibandingkan dengan si Sese yang selalu nawar ingin banyak nasi dan banyak pula lauknya, ditambah permintaanya diantarkan dengan bahasa yang gak jelas.
            Jika dibandingkan, frekuensi antara aku dan Cepkur berkunjung ke dapur memang jauh berbeda, selain mengambilkan nasi bagi geng makannya, ia juga sering membawakan air minum untuk kami dengan kompan putih milik si Ohim/ si Kewel (yang kami anggap milik bersama) karena dikompan itu tercantum nama ‘SAPAL 67’, si Kewel dan Ohim sebagai anggota SAPALA dan aku juga yang lain mewakili angka 67nya. Jarang sekali aku membaca gurat ketidakikhlasan di wajahnya, kecuali jika disuruh oleh si Candi, sparring partnernya sejak DW. Atau disuruh oleh si Ary yang terkesan ‘memperbudaknya’, tapi dengan cara itulah mereka tampak semakin dekat. Dan Cepkurpun sangat menikmati penderitaanya itu, dengan selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh.
***
            Keadaan kelas kali ini jelas berbeda, bukan saja karena ada banatnya, tapi letaknya yang juga startegis kufikir. Selain dekat ke B-Smart (nama baru kantin modern yang kini terima jasa laundry), kamipun tak usah melulu naik tangga yang berhadapan dengan toilet itu.
Dan proses perpindahan kelas menjadi bagian yang sangat menarik bagi kami (SAMBA-SEMUT), terang saja saat itu menjadi momen yang tepat untuk bertukar surat/buku cinta antara rijal dan banat, aku dan anjing edanku, si Candi an si Cinoy, si Epul dengan si Vestri, si Irfan dan si Vijul, dan masih banyak pasangan lainya yang masih menyimpan rapat hubungan mereka dengan status sahabat!
            Dalam hal asmara, Cepkur memang tak seganas yang lain, fikiran gilaku sempat mengira dia h**o, karena rasanya ia tak pernah punya gelagat aneh tatkala bertemu makhluk berpayudara. Lain halnya dengan bang Nazar, pria tak bermata asal Serambi Mekah ini ‘nakal’ bukan buatan, aku pernah mendengar cerita jujur dari mulutnya, tentang kisah seks liarnya  selama liburan DW yang kurang lebih dua bulan itu. Tak jarang pula ia memegang resleting celananya jika mengingat suara genit banat IPS yang iseng menggodanya selama di kelas. Si Cinoy dan si Ocha misalnya yang gemar menggodanya dengan sapaan manja dan merangsang.
            Hanya saja sempat berkembang rumor dikelas sosial, ‘perjodohan’ antara Cepkur dan si Umi (Restina nama asli wanita mungil asli Ciawi Tasik ini), hal itu jelas menggugurkan anggapanku soal Cepkur tadi, karena reaksi yang Cepkur munculkan pun lumayan baik, indikasi bahwa ia senang diperlakukan seperti itu oleh kami. Keisengan kami pada Cepkur semakin menjadi, terlebih melihat reaksi si Umipun terkesan dingin dan datar, karena memang karakternya seperti itu, ramah dan tak pernah marah. Aku termasuk golongan orang yang merestui hubungan mereka, karena pribadi mereka yang relative sama, ditambah postur tubuh mereka yang juga seimbang, tak ayal seperti pasangan persahabatan abadi antara si Sese dan si Lia, gadis montok asal Padalarang, kusebut abadi karena memang statusnya tak kunjung berubah, masih saja bersahabat, padahal satu sama lain kuyakin saling memendam rasa.
            Perjalanan di kelas IPS terbilang cukup mulus, setidaknya semenjak aku meninggalkan dunia perangkaan dan rumus yang ribet. Cepkurpun kulihat sangat menikmatinya, meski ternyata akhirnya kami dipaksa lagi bertemu angka dan rumus, tepatnya bersama Ust. Asep, pengajar yang miliki parfum wangi dan sampai detik ini belum kuketahui apa judulnya. Rasa nyaman yang ia hadirkan ketika mengajar perlahan menghapus keparanoidanku terhadap angka.
            Seiring berjalanya waktu virus perpecahan mulai hadir hinggapi kekompakan kami, di SAMBA tepatnya. Kami terbagi kedalam beberapa golongan, kami tak pernah bersepakat untuk itu, tapi karena ada fase kehidupan yang memaksa kami senasib sepenanggungan maka akhirnya mengundang perpecahan itu, karena srigala tak mungkin mau berkelompok dengan ratusan  kambing, sama halnya dengan kambing yang enggan untuk hidup ditengah-tengah himpunan srigala. Tapi akan ada pula lalat yang seolah tak punya masalah dengan kambing, dan tak  mau berurusan pula dengan srigala, mereka cari aman, aku menyebutnya tak punya sikap!
            Permasalahanya selesai berkat Tuhan hadirkan wanita ditengah-tengah kami, tanpa sadar mereka membantu selesaikan problem kami.
            Masalah itu jelas membuat kami semakin dewasa dan bijak dalam menghadapi permasalahan hidup, setidaknya membuat kami berfikir bahwa ada banyak hati yang harus kami fikirkan sebelum urusi hati kami sendiri.
            Dan akhirnya kami sadar bahwa persahabatan itu bukan retorika ala Soekarno yang menggebu-gebu, bukan pula kebersamaan dan keberadaan yang tak pernah lekang mirip keledai si Sherk, tapi persahabatan itu adalah sesuatu yang bersumber dari hati, dan akan diterima pula oleh hati karena persahabatn adalah kehati-hatian dalam memperhatikan hati.
            The end. . .

            Selalu untuk Sang Inspirator. . . .
            Cecep Kurnia Nizwar.
            

Minggu, 29 Mei 2011

Namanya Kampungan tapi Otaknya Bertaraf Internasional



            Al kisah di sebuah negeri tinggal seorang pemuda yang sangat cerdas, umurnya  baru sampai pada seperempat abad dan dia belum menikah. Wawasan keilmuanya sangat matang,  berbagai hal  ia ketahui dan fahami, terlebih dalam ilmu agama Islam juga bahasa arab. Karena hal itu pulalah tujuh kali ia naik haji bersama para tetangga yang kaya raya minta dibimbing olehnya. Pemuda yang sangat mujur, mungkin karena do’a dari ibunya yang wafat ketika melahirkan anak yang ketujuh, yaitu dirinya. Dan karena lahir terakhir dari rahim ibunya itu, ia dinamai Akhirudin, dipanggil Udin. Namanya terkenal di seantero jagat, bagaimana tidak, saat berusia 23 tahun ia berhasil mempermalukan anak pejabat di Israel  yang beragama Yahudi lewat debat tentang kemurnian Al-Qur’an.
            Suatu hari ia diundang menghadiri ulang tahun seorang saudagar kaya raya dari Inggris, perayaan yang dihadiri oleh orang-orang terpandang dan berpengaruh dari berbagai negri. Kala itu ia mewakili pemuda di Negrinya, bahkan mungkin sekaligus mewakili ulama di Negerinya yang enggan menghadiri undangan dari yang bukan Muslim (Inggris).
            Meski baru pertama kali Udin menghadiri pesta orang Eropa, tapi sama sekali tak membuatnya bingung untuk memilih pakaian, ia memakai pakaian rakyat biasa dan mengenakan kopiah di kepalanya. Ia tak merasa risih sedikitpun dengan pandangan mata orang-orang ketika melihat pakaiannya, baginya berpakaian mewah itu hanya jika menghadap Sang Pencipta saja dalam sholat dan ketika menghadapi jama’ahnya saat pengajian.
            Acara diawali dengan tiup lilin dan potong kue, sebagaimana adat orang Eropa. Dan tibalah pada acara terakhir, makan bersama.
            Seluruh tamu undangan telah berkumpul dengan rapi mengelilingi meja makan yang telah dihiasi berbagai makanan lezat. Dihadapan mereka tampak piring kosong yang dibalik dan di sampingnya ada sendok dan garpu dalam posisi menyilang. Udin memilih posisi berhadapan dengan tuan rumah, tepatnya disamping Pak Wali Kota yang kala itu ikut hadir.
            Saudagar Inggris selaku tuan rumah berbicara sejenak lalu mempersilakan para undangan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan, dan acara makan pun dimulai. Mereka memilih dan menikmati makanan dengan peralatan yang telah disediakan, hanya Udin saja yang lebih memilih memakan nasi kebuli kesukaanya dengan tangan, dan membiarkan sendok dan garpu menganggur.
“ Hei Udin makanlah dengan sendok dan garpu yang telah disediakan. Mereka memperhatikanmu,” Bisik Pak Wali Kota mengingatkan.
“Pak, anda makan pakai tangan atau kaki? “ tanya Udin.
“Tentu saja pakai tangan.” Jawab Wali Kota kesal.
“Apa anda lihat aku makan pakai kaki?” tanya Udin sambil kembali melahap nasi      kebulinya.
            Akhirnya saudagar Inggris selaku tuan rumah melihat apa yang Udin lakukan, dan ia menegurnya, sehingga membuat yang lain terdiam dan ikut terheran-heran melihat tingkah si Udin.
            “Ehem, ehem. Tuan Udin, bisakah Anda menggunakan sendok?” tegur tuan rumah.
            “Tentu saja bisa tuan.” Jawab si Udin santai.
“Mengapa tidak kau gunakan? ”
            “Maaf, Tuan-tuan sekalian. Dalam sehari saya membersihkan diri lima kali. Jadi saya tahu betul kebersihan tangan saya dibandingkan dengan kebersihan sendok ini . Oh maaf sekali lagi. Tuan-tuan mungkin jarang membersihkan diri sehingga lebih mempercayai kebersihan sendok daripada kebersihan tangan Tuan-tuan sendiri.” Ujar Udin lalu membersihkan tangan dengan air dalam mangkok kecil.
            Perkataan udin benar-benar mempengaruhi para undangan. Karena takut dicap jarang membersihkan diri, para undangan segera meletakan sendok dan garpu. Mereka saling pandang sejenak, lalu dengan malu-malu mereka makan dengan tangan mereka.

Rabu, 25 Mei 2011

Studi Kasus Bimbingan dan Konseling


A.    Latar Belakang Masalah

Al kisah seorang anak sekolah bernama Dona dibagi rapot di sekolahnya, dan ia mendapati  rapotnya jelek sekali, nilai-nilainya ditulis dengan tinta merah menandakan betapa buruknya hasil belajarnya. Mau tidak mau ia harus memberitahukan rapot itu pada ibunya, ia berfikir keras sehingga ia  mendapatkan sebuah  rencana cerdas untuk memberitahukan rapot yang merah tadi kepada ibunya, ia membuat surat dalam secarik kertas ditujukan kepada ibunya, dalam surat itu ia menulis:
“Ma, dengan sangat menyesal dan mohon ampunan dari Mama. Saya harus bilang saya kabur dengan pacar baruku namanya Samson. Saya cinta banget sama dia dan dia juga kereeen banget dengan tato di seluruh tubuhnya juga tindikan dimana-mana.
“Oh ya dia pake motor gede lo, Ma. Bukan itu aja, Ma. Saya sedang hamil dan Samson bilang kami akan bahagia tinggal di pondoknya di hutan. Dia pingin punya banyak anak dan itu emang impianku.
“Oh ya, Ma ternyata mariyuana tuh nggak akan membahayakan kok dan kami berencana menanamnya untuk kami dan juga teman-teman. Kami barteran dengan ekstasi dan kokain. Sementara itu kami berdoa mudah-mudahan ilmuwan bisa cepat menemukan obat penyembuh AIDS supaya Samson lekas sembuh.
“Mama nggak perlu kuatir, Dona kan udah 15 tahun, udah tau gimana jaga diri. Mungkin nanti Dona akan mengunjungi Mama untuk ngenalin cucu Mama.”
Dengan Cinta, Anakmu Dona.

Sontak surat itu membuat si Ibu tersentak dan shock, namun di akhir surat si anak menulis catatan, yang berbunyi:

NB: Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…
Sebagai bentuk aplikasi dari mata kuliah Bimbingan dan konseling, maka penyusun akan mencoba lakukan analisis kasus tersebut. Karena tindakan yang dilakukan oleh anak tadi jelas beralasan dan gejala seperti itu menjadi bahasan  Bimbingan dan Konseling.


B.     Rumusan Masalah

Dengan demikian analisis kasus ini akan berlandaskan pada beberapa pertanyaan:
-          Apa yang terjadi pada Dona dalam pandangan bimbingan dan konseling?
-          Jika menjadi  wali kelas Dona bagaimana dan apa yang harus dilakukan pada Dona dan orang tuanya?
-          Apa pembelajaran yang dapat diperoleh dari paparan sebagai calon guru yang harus memerankan fungsi sebagai pembimbing?
-          Lalu kualitas apa yang harus dikembangkan untuk menjadi guru yang professional dan  “Guru yang dirindukan siswa?

C.    Pemecahan Masalah
Kondisi Dona dari Tinjauan BK
Jika kita amati cerita tadi, Dona si anak yang bertingkah aneh namun cerdas, berumur 15 tahun. Siswa yang diprediksi bersekolah ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini tentu memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal itu pada ibunhya sendiri. Padahal bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ibunya setelah membaca surat tadi, tanpa membaca bagian akhir dari surat tersebut.
Dalam tinjauan bimbingan dan konseling Dona mengalami sebuah masalah pribadi; yang Akhman Nani sebut dengan istilah belum memilikki rasa disiplin dan melakukan sesuatu tanpa pertimbangkan resikonya. Hal itu jelas terjadi pada Dona ketika menulis surat yang “aneh” namun cerdas itu pada ibunya.
Tapi yang menjadi inti dari permasalahan Dona adalah, ia ingin ibunya tidak memarahinya ketika tahu bahwwa nilai rapotnya jelek, maka ia buat sebuah perbandingan masalah yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan hanya sekedar rapot merah. Nampakya Dona berharap ibunya justru dapat lebih menyayanginya setelah menyuguhkan peristiwa terburuk yang diutarakan dalam “surat fiktif” itu. Meski sebetulnya memungkinkan pula jika ibunya bersikap sebaliknya, marah bear pada Dona yang telah permainkan perasaanya.
            Hal itu terbukti dengan catatan tambahan yang dibubuhkan oleh Dona di akhir suratnya, “NB: Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…” maka hal itu pulalah yang menjadi misi utama Dona, memberitahu soal rapot merah kepada ibunya tapi tidak secara langsung, bahkan terkesan meminta simpati pada ibunya. Dona pun termasuk kategori orang yang bermasalah, dengan indikasi ia melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan atau dihitung sesuai takaran usia dan jenjang pendidikan (Kartini Kartono).

            Tindakan Jika Kita Ada di Posisi Wali Kelas Dona
            Jika kita memposisikan diri sebagai wali kelas Dona, tentu ada dua orang objek yang harus kita tangani, yaitu Dona dan ibunya. Ditinjau dari ragam bimbingan Dona tergolong objek yang bermasalah dalam segi akademik dan keluarga. Karena nilai rapot yang merah jelas menjadi indikasi bahwa tingkat kecerdasan Dona tidak terlalu tinggi, tentu memliki latar belakang yang beragam. Pun halnya dengan permasalahan di keluarga, cara Dona memberitahukan nilai rapot kepada ibunya menjadi indikasi betapa jauhnya jarak jalinan keluarga tersebut, atau bahkan mungkin ibu Dona tipe orang yang temperamental, sehingga Dona enggan untuk memberitahukan secara langsung. Perlu diadakan pendekatan yang khusus pula pada ibu Dona, agar merubah gaya mendidik anaknya dirumah, dan meyakinkannya bahwa menjadi orangtua yang lebih bersahabat dengan anak itu lebih baik, bahkan lebih dihormati bukan ditakuti.
            Adapun dalam segi macam layanan bimbingan dapat dilakukan dengan layanan responsif dengan membantu memenuhi kebutuhan objek (dalam hal ini Dona) yang sangat mendesak, dan layanan ini ;ebih bersifat preventif atau bahkan kuratif. Hal itu sebagai upaya penolongan pertama agar tidak melakukan hal yang membahayakan, dan tidakan pencegahan agar saat gejala yang sama terjadi, efeknya tidak terulang.
            Dari segi pendekatan bimbingan dapat dilakukan pendekatan krisis. Melihat kasus yang dialami oleh Dona terlihat bahwa dia tengah mengalami krisis keribadian, sehingga ia tidak terlalu kuta untuk berkata secara langung dengan ibunya. Dan Nampak terlihat pula ada peristiwa yang serupa dengan itu di masa yang lampau namun masih membekas dalam jiwa Dona. Dan hal itu jelas harus diperbaiki dan dihilangkan dari fikiran Dona agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh dalam menyikapai permasalahan yang tengah ia hadapi.
            Dan ditinjau dari ragam  teknik bimbingan, masalah Dona ini harus ditangani dengan cara  konseling dan nasehat. Konseling dapat dilakukan dengan cara wawancara dengan konseli (objek), agar informasi dapat lebih valid karena bersumber dari konseli lansung. Dan istimewanya konseling, kita tidak perlu melakukan penilaian , jadi hanya sebatas mengusut untuk daptkan informasi saja. Adapun untuk tindakan selanjutnya yaitu dilakukan teknik nasehat, konseli diberi beberapa saran tentang permasalahan yang tengah dihadapi olehnya. Dengan cara seperti itu bimbingan akan lebih efektif dan mengena pada jiwa dan hati konseli, Dona.

            Hikmah Dari Cerita Dona Bagi Guru yang Berfungsi Sebagai Pembimbing
Cerita yang menarik tentang Dona dan ibunya tadi, tentu mengandung banyak hal positif yang dapat diambil  bagi para guru tang pada hakikatnya juga memiliki fungsi sebagai pembimbing, disamping tugasnya sebagai pengajar di kelas.
Pertama, Dona adalah salah satu contoh dari ribuan objek yang bisa jadi memiliki kasus yang sama atau bahkan lebih dari itu. Maka cara standar adalah memperbanyak pengetahuan tentang kejiwaan siswa yang tengah ditangani, agar kita tidak tergolong guru-guru yang terlambat dalam menangani kasus siswa.
Kedua, kisah Dona menjadi pelajaran bagi semua orangtua, baik orangtua di rumah atau orangtua di sekolah (guru), bahwa anak/siswa dapat melakukan hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya, jika tindakan itu positif maka artinya hal itu dampak dari kebaikan kita pada siswa tersebut, namun jika sebaliknya maka artinya itupun merupakan wujud terakumulasi kepenatan yang dirasakan siswa terhadap kita.
Ketiga, Memutuskan untuk menjadi guru artinya kita memutuskan untuk memutuskan perhatian pada anak didik kita. Dari hal yang terlihat sampai yang tak nampak dari siswa harus kita telaah dan kuasai secara mendalam, karena pada dasarnya semua orang senang diperhatikan terlebih pada usia-usia sekolah, Dona misalnya. Sikap yang ia lakukan pada ibunya dengan menulis surat itu jelas menunjukan bahwa ia tidak terlalu akrab dengan ibunya.





Menjadi “Guru yang Dirindu”
Proses belajar mengajar yang baik akan terwujud jika terjadi kesinambungan antara pendidik dan peserta didik. Peserta didik yang semangat dan giat ditambah dengan guru yang cerdaslah formulanya untuk wujudkan itu semua.
Namun masih banyak guru bahkan calon guru yang tidak memikirkan pengembangan pribadi guru tersebut. Dalam berpakaian saja masih banyak yang kurang memperhatikannya. Pun untuk sunggingan bibir, masih sering ditemukan guru yang enggan melakukanya, padahal bagi siswa  senyuman seorang guru itu menjadi energy yang sangat hebat sebelum KBM dimulai.
Kepintaran akan pelajaran yang digeluti jelas mutlak diperlukan oleh seorang guru, namun harus diikuti dengan innovasi dalam belajar. Diselingi humor pun tidak akan mengurangi charisma seorang guru, bahkan justru menjadikan sang guru lebih dicinta dan dirindu.
Intinya adalah seorang guru harus senantiasa berusaha menjadi pribadi yang baik. Bersikap dengan sikap yang pantas untuk dirindukan oleh siswa-siswanya, karena penghormatan, kecintaan dan kerinduan hanya akan diperoleh oleh guru yang pantas untuk mendapatkanya.
















Kitab-kitab Tafsir Terkenal


Perpustakaan Islam dipenuhi dengan kitab-kitab tafsir bil ma’sur, tafsir bi ra’yi dan tafsir mu’asir (modern). Sebagian kitab-kitb tersebut lebih terkenal dibandingkan dengan kitab yang lain kren bnyak beredar dikalangan pembaca.Adapun rincian kitab-kitab tersebut adalah:
  1. Kitab-kitab Tafsir bil Ma’sur yang Terkenal
-          Tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas
-          Tafsir Ibnu ‘Uyainah
-          Tafsir Ibnu Abi Haatim
-          Tafisr Abusy Syaikh bin Hibban
-          Tafsir Ibnu Atiyah
-          Tafsir Abul Lais as-samarqandi, Bahrul ulum
-          Tafsir Abu Ishaq, al kasyfu wal Bayan an Tafsiril Qur’an
-          Tafsir Ibnu Jarir at Tabari, Jamiul Bayan fit tafsir Al-qur’an
-          Tafsir Ibnu Abi Syaibah
-          Tafsir al-Bagawi, maalimut tanzil
-          Tafsir Abil Fida al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsirul qur’anul aziim
-          Tafsir as-sa’labi, al jawahirul Hisan fi Tafsiril qur’an
-          Tafsir Jalaludin as suyuthi, ad Daarul mansur fit tafsir bil Ma’sur
-          Tafsir asy Syaukani, Fathul Qadir
  1. Kitab-kitab Tafsir bir-Ra’yi yang terkenal
-          Tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Asam
-          Tafsir Abu Ali al-Juba’i
-          Tafsir Abdul Jabbar
-          Tafsir az-Zamakhsyari
-          Tafsir Fakhruddin ar-Razi
-          Tafsir Ibnu Furak
-          Tafsir an-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqaaiqut Ta’wil
-          Tafsir al-Khazin, Lubaabut Ta’wil fi Maanit Tanzil
-          Tafsir Abu Hayyan, al-Bahrul Muhiit
-          Tafsir al-Baidawi, Anwarut Tanzil wa Asraaratu Ta’wil
-          Tafsir al-Jalalain; Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suythi
-          Tafsir al-Qurtubi, al-Jami li Ahkamil Qur’an
-          Tafsir Abus suud, Irsyadul Aqlis Saalim ila Mazaayal Kitabil Kariim
-          Tafsir al-Alusi, Ruhul maa’ni fi Tafssiril Qur’anil aziim was sab’ii masaani
-           
  1. Kitab-kitab Tafsir yang Terkenal di Abad Modern
-          Tafsir Al-Jawaahir fi Tafsiril Qur’an, oleh Syeikh Tantawi Jauhari
-          Tafsir al-Manar, oleh Sayid Muhammad Rasi Rido
-          Tafsir Fi Zilalil Qur’an oleh Sayyid Qutub
-          Tafsir al-Bayani lil Qur’anil Kariim, oleh Aisyah Abdurrahman binti asy-Syati

  1. Kitab-itab Tafsir Fuqoha
-          Ahkamul Qur’an, oleh Jasass
-          Ahkamul Qur’an, oleh al-Kaya dan al-haras
-          Ahkamul Qur’an, Ibnul Araby
-          Al-Jami li Ahkamil Qur’an oleh Al-Qurtubi
-          Al-Iklil fi Istinbat Tanzil, oleh Asy-suyuti
-          At Tafsiratul Ahmadiyah fi ayanil Ayatisy Syar’iyah, oleh Mula Geon
-          Tafsiru Ayatil Ahkam, oleh Syaikh Muhammad as-Sayis
-          Tafsiru Ayatil Ahkam, oleh Syaikh Manna al-Qattan
-          Ammad Adwaa ul bayan, oleh Syaikh Muhammad asy-Syinqiti