A.
Latar Belakang Masalah
Al
kisah seorang anak sekolah bernama Dona dibagi rapot di sekolahnya, dan ia
mendapati rapotnya jelek sekali,
nilai-nilainya ditulis dengan tinta merah menandakan betapa buruknya hasil
belajarnya. Mau tidak mau ia harus memberitahukan rapot itu pada ibunya, ia
berfikir keras sehingga ia mendapatkan
sebuah rencana cerdas untuk
memberitahukan rapot yang merah tadi kepada ibunya, ia membuat surat dalam
secarik kertas ditujukan kepada ibunya, dalam surat itu ia menulis:
“Ma, dengan sangat
menyesal dan mohon ampunan dari Mama. Saya harus bilang saya kabur dengan pacar
baruku namanya Samson. Saya cinta banget sama dia dan dia juga kereeen banget
dengan tato di seluruh tubuhnya juga tindikan dimana-mana.
“Oh ya dia pake motor
gede lo, Ma. Bukan itu aja, Ma. Saya sedang hamil dan Samson bilang kami akan
bahagia tinggal di pondoknya di hutan. Dia pingin punya banyak anak dan itu
emang impianku.
“Oh ya, Ma ternyata
mariyuana tuh nggak akan membahayakan kok dan kami berencana menanamnya untuk
kami dan juga teman-teman. Kami barteran dengan ekstasi dan kokain. Sementara
itu kami berdoa mudah-mudahan ilmuwan bisa cepat menemukan obat penyembuh AIDS
supaya Samson lekas sembuh.
“Mama nggak perlu
kuatir, Dona kan udah 15 tahun, udah tau gimana jaga diri. Mungkin nanti Dona
akan mengunjungi Mama untuk ngenalin cucu Mama.”
Dengan Cinta, Anakmu
Dona.
Sontak
surat itu membuat si Ibu tersentak dan shock, namun di akhir surat si anak
menulis catatan, yang berbunyi:
NB: Ma, nggak kok…
Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah.
Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup
daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR
DONA….I LOVE YOU, MA…
Sebagai
bentuk aplikasi dari mata kuliah Bimbingan dan konseling, maka penyusun akan
mencoba lakukan analisis kasus tersebut. Karena tindakan yang dilakukan oleh
anak tadi jelas beralasan dan gejala seperti itu menjadi bahasan Bimbingan dan Konseling.
B.
Rumusan Masalah
Dengan
demikian analisis kasus ini akan berlandaskan pada beberapa pertanyaan:
-
Apa yang terjadi
pada Dona dalam pandangan bimbingan dan konseling?
-
Jika menjadi wali kelas Dona bagaimana dan apa yang harus dilakukan pada Dona dan
orang tuanya?
-
Apa pembelajaran
yang dapat
diperoleh
dari paparan sebagai calon guru yang harus memerankan fungsi sebagai pembimbing?
-
Lalu kualitas
apa yang harus dikembangkan untuk menjadi guru yang professional dan “Guru yang dirindukan siswa?
C.
Pemecahan Masalah
Kondisi
Dona dari Tinjauan BK
Jika kita amati
cerita tadi, Dona si anak yang bertingkah aneh namun cerdas, berumur 15 tahun.
Siswa yang diprediksi bersekolah ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini
tentu memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal itu pada ibunhya sendiri.
Padahal bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ibunya setelah membaca
surat tadi, tanpa membaca bagian akhir dari surat tersebut.
Dalam tinjauan
bimbingan dan konseling Dona mengalami sebuah masalah pribadi; yang Akhman Nani
sebut dengan istilah belum memilikki rasa disiplin dan melakukan sesuatu tanpa
pertimbangkan resikonya. Hal itu jelas terjadi pada Dona ketika menulis surat
yang “aneh” namun cerdas itu pada ibunya.
Tapi yang
menjadi inti dari permasalahan Dona adalah, ia ingin ibunya tidak memarahinya
ketika tahu bahwwa nilai rapotnya jelek, maka ia buat sebuah perbandingan
masalah yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan hanya sekedar rapot merah.
Nampakya Dona berharap ibunya justru dapat lebih menyayanginya setelah
menyuguhkan peristiwa terburuk yang diutarakan dalam “surat fiktif” itu. Meski
sebetulnya memungkinkan pula jika ibunya bersikap sebaliknya, marah bear pada
Dona yang telah permainkan perasaanya.
Hal itu terbukti dengan catatan
tambahan yang dibubuhkan oleh Dona di akhir suratnya, “NB:
Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah
tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih
jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH,
ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…” maka hal itu
pulalah yang menjadi misi utama Dona, memberitahu soal rapot merah kepada
ibunya tapi tidak secara langsung, bahkan terkesan meminta simpati pada ibunya. Dona pun termasuk kategori orang yang
bermasalah, dengan indikasi
ia melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan atau dihitung
sesuai takaran usia dan jenjang pendidikan (Kartini Kartono).
Tindakan
Jika Kita Ada di Posisi Wali Kelas Dona
Jika
kita memposisikan diri sebagai wali kelas Dona, tentu ada dua orang objek yang
harus kita tangani, yaitu Dona dan ibunya. Ditinjau dari ragam bimbingan Dona
tergolong objek yang bermasalah dalam segi akademik dan keluarga. Karena nilai
rapot yang merah jelas menjadi indikasi bahwa tingkat kecerdasan Dona tidak
terlalu tinggi, tentu memliki latar belakang yang beragam. Pun halnya dengan
permasalahan di keluarga, cara Dona memberitahukan nilai rapot kepada ibunya
menjadi indikasi betapa jauhnya jarak jalinan keluarga tersebut, atau bahkan
mungkin ibu Dona tipe orang yang temperamental, sehingga Dona enggan untuk
memberitahukan secara langsung. Perlu diadakan pendekatan yang khusus pula pada
ibu Dona, agar merubah gaya mendidik anaknya dirumah, dan meyakinkannya bahwa menjadi
orangtua yang lebih bersahabat dengan anak itu lebih baik, bahkan lebih
dihormati bukan ditakuti.
Adapun
dalam segi macam layanan bimbingan dapat dilakukan dengan layanan responsif
dengan membantu memenuhi kebutuhan objek (dalam hal ini Dona) yang sangat
mendesak, dan layanan ini ;ebih bersifat preventif atau bahkan kuratif. Hal itu
sebagai upaya penolongan pertama agar tidak melakukan hal yang membahayakan,
dan tidakan pencegahan agar saat gejala yang sama terjadi, efeknya tidak
terulang.
Dari
segi pendekatan bimbingan dapat dilakukan pendekatan krisis. Melihat kasus yang
dialami oleh Dona terlihat bahwa dia tengah mengalami krisis keribadian,
sehingga ia tidak terlalu kuta untuk berkata secara langung dengan ibunya. Dan
Nampak terlihat pula ada peristiwa yang serupa dengan itu di masa yang lampau
namun masih membekas dalam jiwa Dona. Dan hal itu jelas harus diperbaiki dan
dihilangkan dari fikiran Dona agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat dan
tangguh dalam menyikapai permasalahan yang tengah ia hadapi.
Dan
ditinjau dari ragam teknik bimbingan,
masalah Dona ini harus ditangani dengan cara konseling dan nasehat. Konseling dapat
dilakukan dengan cara wawancara dengan konseli (objek), agar informasi dapat
lebih valid karena bersumber dari konseli lansung. Dan istimewanya konseling,
kita tidak perlu melakukan penilaian , jadi hanya sebatas mengusut untuk
daptkan informasi saja. Adapun untuk tindakan selanjutnya yaitu dilakukan
teknik nasehat, konseli diberi beberapa saran tentang permasalahan yang tengah
dihadapi olehnya. Dengan cara seperti itu bimbingan akan lebih efektif dan
mengena pada jiwa dan hati konseli, Dona.
Hikmah
Dari Cerita Dona Bagi Guru yang Berfungsi Sebagai Pembimbing
Cerita yang menarik tentang Dona dan ibunya tadi,
tentu mengandung banyak hal positif yang dapat diambil bagi para guru tang pada hakikatnya juga
memiliki fungsi sebagai pembimbing, disamping tugasnya sebagai pengajar di
kelas.
Pertama, Dona adalah salah satu contoh dari ribuan objek yang bisa jadi memiliki
kasus yang sama atau bahkan lebih dari itu. Maka cara standar adalah
memperbanyak pengetahuan tentang kejiwaan siswa yang tengah ditangani, agar
kita tidak tergolong guru-guru yang terlambat dalam menangani kasus siswa.
Kedua, kisah Dona menjadi pelajaran bagi semua orangtua, baik orangtua di rumah
atau orangtua di sekolah (guru), bahwa anak/siswa dapat melakukan hal-hal yang
tidak kita duga sebelumnya, jika tindakan itu positif maka artinya hal itu
dampak dari kebaikan kita pada siswa tersebut, namun jika sebaliknya maka
artinya itupun merupakan wujud terakumulasi kepenatan yang dirasakan siswa
terhadap kita.
Ketiga, Memutuskan untuk menjadi guru artinya kita memutuskan untuk memutuskan
perhatian pada anak didik kita. Dari hal yang terlihat sampai yang tak nampak
dari siswa harus kita telaah dan kuasai secara mendalam, karena pada dasarnya
semua orang senang diperhatikan terlebih pada usia-usia sekolah, Dona misalnya.
Sikap yang ia lakukan pada ibunya dengan menulis surat itu jelas menunjukan
bahwa ia tidak terlalu akrab dengan ibunya.
Menjadi “Guru yang Dirindu”
Proses belajar mengajar yang baik akan terwujud jika
terjadi kesinambungan antara pendidik dan peserta didik. Peserta didik yang
semangat dan giat ditambah dengan guru yang cerdaslah formulanya untuk wujudkan
itu semua.
Namun masih banyak guru bahkan calon guru yang tidak
memikirkan pengembangan pribadi guru tersebut. Dalam berpakaian saja masih
banyak yang kurang memperhatikannya. Pun untuk sunggingan bibir, masih sering
ditemukan guru yang enggan melakukanya, padahal bagi siswa senyuman seorang guru itu menjadi energy yang
sangat hebat sebelum KBM dimulai.
Kepintaran akan pelajaran yang digeluti jelas mutlak
diperlukan oleh seorang guru, namun harus diikuti dengan innovasi dalam
belajar. Diselingi humor pun tidak akan mengurangi charisma seorang guru,
bahkan justru menjadikan sang guru lebih dicinta dan dirindu.
Intinya adalah seorang guru harus senantiasa berusaha
menjadi pribadi yang baik. Bersikap dengan sikap yang pantas untuk dirindukan
oleh siswa-siswanya, karena penghormatan, kecintaan dan kerinduan hanya akan
diperoleh oleh guru yang pantas untuk mendapatkanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar