Rabu, 25 Mei 2011

Studi Kasus Bimbingan dan Konseling


A.    Latar Belakang Masalah

Al kisah seorang anak sekolah bernama Dona dibagi rapot di sekolahnya, dan ia mendapati  rapotnya jelek sekali, nilai-nilainya ditulis dengan tinta merah menandakan betapa buruknya hasil belajarnya. Mau tidak mau ia harus memberitahukan rapot itu pada ibunya, ia berfikir keras sehingga ia  mendapatkan sebuah  rencana cerdas untuk memberitahukan rapot yang merah tadi kepada ibunya, ia membuat surat dalam secarik kertas ditujukan kepada ibunya, dalam surat itu ia menulis:
“Ma, dengan sangat menyesal dan mohon ampunan dari Mama. Saya harus bilang saya kabur dengan pacar baruku namanya Samson. Saya cinta banget sama dia dan dia juga kereeen banget dengan tato di seluruh tubuhnya juga tindikan dimana-mana.
“Oh ya dia pake motor gede lo, Ma. Bukan itu aja, Ma. Saya sedang hamil dan Samson bilang kami akan bahagia tinggal di pondoknya di hutan. Dia pingin punya banyak anak dan itu emang impianku.
“Oh ya, Ma ternyata mariyuana tuh nggak akan membahayakan kok dan kami berencana menanamnya untuk kami dan juga teman-teman. Kami barteran dengan ekstasi dan kokain. Sementara itu kami berdoa mudah-mudahan ilmuwan bisa cepat menemukan obat penyembuh AIDS supaya Samson lekas sembuh.
“Mama nggak perlu kuatir, Dona kan udah 15 tahun, udah tau gimana jaga diri. Mungkin nanti Dona akan mengunjungi Mama untuk ngenalin cucu Mama.”
Dengan Cinta, Anakmu Dona.

Sontak surat itu membuat si Ibu tersentak dan shock, namun di akhir surat si anak menulis catatan, yang berbunyi:

NB: Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…
Sebagai bentuk aplikasi dari mata kuliah Bimbingan dan konseling, maka penyusun akan mencoba lakukan analisis kasus tersebut. Karena tindakan yang dilakukan oleh anak tadi jelas beralasan dan gejala seperti itu menjadi bahasan  Bimbingan dan Konseling.


B.     Rumusan Masalah

Dengan demikian analisis kasus ini akan berlandaskan pada beberapa pertanyaan:
-          Apa yang terjadi pada Dona dalam pandangan bimbingan dan konseling?
-          Jika menjadi  wali kelas Dona bagaimana dan apa yang harus dilakukan pada Dona dan orang tuanya?
-          Apa pembelajaran yang dapat diperoleh dari paparan sebagai calon guru yang harus memerankan fungsi sebagai pembimbing?
-          Lalu kualitas apa yang harus dikembangkan untuk menjadi guru yang professional dan  “Guru yang dirindukan siswa?

C.    Pemecahan Masalah
Kondisi Dona dari Tinjauan BK
Jika kita amati cerita tadi, Dona si anak yang bertingkah aneh namun cerdas, berumur 15 tahun. Siswa yang diprediksi bersekolah ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini tentu memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal itu pada ibunhya sendiri. Padahal bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ibunya setelah membaca surat tadi, tanpa membaca bagian akhir dari surat tersebut.
Dalam tinjauan bimbingan dan konseling Dona mengalami sebuah masalah pribadi; yang Akhman Nani sebut dengan istilah belum memilikki rasa disiplin dan melakukan sesuatu tanpa pertimbangkan resikonya. Hal itu jelas terjadi pada Dona ketika menulis surat yang “aneh” namun cerdas itu pada ibunya.
Tapi yang menjadi inti dari permasalahan Dona adalah, ia ingin ibunya tidak memarahinya ketika tahu bahwwa nilai rapotnya jelek, maka ia buat sebuah perbandingan masalah yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan hanya sekedar rapot merah. Nampakya Dona berharap ibunya justru dapat lebih menyayanginya setelah menyuguhkan peristiwa terburuk yang diutarakan dalam “surat fiktif” itu. Meski sebetulnya memungkinkan pula jika ibunya bersikap sebaliknya, marah bear pada Dona yang telah permainkan perasaanya.
            Hal itu terbukti dengan catatan tambahan yang dibubuhkan oleh Dona di akhir suratnya, “NB: Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…” maka hal itu pulalah yang menjadi misi utama Dona, memberitahu soal rapot merah kepada ibunya tapi tidak secara langsung, bahkan terkesan meminta simpati pada ibunya. Dona pun termasuk kategori orang yang bermasalah, dengan indikasi ia melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan atau dihitung sesuai takaran usia dan jenjang pendidikan (Kartini Kartono).

            Tindakan Jika Kita Ada di Posisi Wali Kelas Dona
            Jika kita memposisikan diri sebagai wali kelas Dona, tentu ada dua orang objek yang harus kita tangani, yaitu Dona dan ibunya. Ditinjau dari ragam bimbingan Dona tergolong objek yang bermasalah dalam segi akademik dan keluarga. Karena nilai rapot yang merah jelas menjadi indikasi bahwa tingkat kecerdasan Dona tidak terlalu tinggi, tentu memliki latar belakang yang beragam. Pun halnya dengan permasalahan di keluarga, cara Dona memberitahukan nilai rapot kepada ibunya menjadi indikasi betapa jauhnya jarak jalinan keluarga tersebut, atau bahkan mungkin ibu Dona tipe orang yang temperamental, sehingga Dona enggan untuk memberitahukan secara langsung. Perlu diadakan pendekatan yang khusus pula pada ibu Dona, agar merubah gaya mendidik anaknya dirumah, dan meyakinkannya bahwa menjadi orangtua yang lebih bersahabat dengan anak itu lebih baik, bahkan lebih dihormati bukan ditakuti.
            Adapun dalam segi macam layanan bimbingan dapat dilakukan dengan layanan responsif dengan membantu memenuhi kebutuhan objek (dalam hal ini Dona) yang sangat mendesak, dan layanan ini ;ebih bersifat preventif atau bahkan kuratif. Hal itu sebagai upaya penolongan pertama agar tidak melakukan hal yang membahayakan, dan tidakan pencegahan agar saat gejala yang sama terjadi, efeknya tidak terulang.
            Dari segi pendekatan bimbingan dapat dilakukan pendekatan krisis. Melihat kasus yang dialami oleh Dona terlihat bahwa dia tengah mengalami krisis keribadian, sehingga ia tidak terlalu kuta untuk berkata secara langung dengan ibunya. Dan Nampak terlihat pula ada peristiwa yang serupa dengan itu di masa yang lampau namun masih membekas dalam jiwa Dona. Dan hal itu jelas harus diperbaiki dan dihilangkan dari fikiran Dona agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh dalam menyikapai permasalahan yang tengah ia hadapi.
            Dan ditinjau dari ragam  teknik bimbingan, masalah Dona ini harus ditangani dengan cara  konseling dan nasehat. Konseling dapat dilakukan dengan cara wawancara dengan konseli (objek), agar informasi dapat lebih valid karena bersumber dari konseli lansung. Dan istimewanya konseling, kita tidak perlu melakukan penilaian , jadi hanya sebatas mengusut untuk daptkan informasi saja. Adapun untuk tindakan selanjutnya yaitu dilakukan teknik nasehat, konseli diberi beberapa saran tentang permasalahan yang tengah dihadapi olehnya. Dengan cara seperti itu bimbingan akan lebih efektif dan mengena pada jiwa dan hati konseli, Dona.

            Hikmah Dari Cerita Dona Bagi Guru yang Berfungsi Sebagai Pembimbing
Cerita yang menarik tentang Dona dan ibunya tadi, tentu mengandung banyak hal positif yang dapat diambil  bagi para guru tang pada hakikatnya juga memiliki fungsi sebagai pembimbing, disamping tugasnya sebagai pengajar di kelas.
Pertama, Dona adalah salah satu contoh dari ribuan objek yang bisa jadi memiliki kasus yang sama atau bahkan lebih dari itu. Maka cara standar adalah memperbanyak pengetahuan tentang kejiwaan siswa yang tengah ditangani, agar kita tidak tergolong guru-guru yang terlambat dalam menangani kasus siswa.
Kedua, kisah Dona menjadi pelajaran bagi semua orangtua, baik orangtua di rumah atau orangtua di sekolah (guru), bahwa anak/siswa dapat melakukan hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya, jika tindakan itu positif maka artinya hal itu dampak dari kebaikan kita pada siswa tersebut, namun jika sebaliknya maka artinya itupun merupakan wujud terakumulasi kepenatan yang dirasakan siswa terhadap kita.
Ketiga, Memutuskan untuk menjadi guru artinya kita memutuskan untuk memutuskan perhatian pada anak didik kita. Dari hal yang terlihat sampai yang tak nampak dari siswa harus kita telaah dan kuasai secara mendalam, karena pada dasarnya semua orang senang diperhatikan terlebih pada usia-usia sekolah, Dona misalnya. Sikap yang ia lakukan pada ibunya dengan menulis surat itu jelas menunjukan bahwa ia tidak terlalu akrab dengan ibunya.





Menjadi “Guru yang Dirindu”
Proses belajar mengajar yang baik akan terwujud jika terjadi kesinambungan antara pendidik dan peserta didik. Peserta didik yang semangat dan giat ditambah dengan guru yang cerdaslah formulanya untuk wujudkan itu semua.
Namun masih banyak guru bahkan calon guru yang tidak memikirkan pengembangan pribadi guru tersebut. Dalam berpakaian saja masih banyak yang kurang memperhatikannya. Pun untuk sunggingan bibir, masih sering ditemukan guru yang enggan melakukanya, padahal bagi siswa  senyuman seorang guru itu menjadi energy yang sangat hebat sebelum KBM dimulai.
Kepintaran akan pelajaran yang digeluti jelas mutlak diperlukan oleh seorang guru, namun harus diikuti dengan innovasi dalam belajar. Diselingi humor pun tidak akan mengurangi charisma seorang guru, bahkan justru menjadikan sang guru lebih dicinta dan dirindu.
Intinya adalah seorang guru harus senantiasa berusaha menjadi pribadi yang baik. Bersikap dengan sikap yang pantas untuk dirindukan oleh siswa-siswanya, karena penghormatan, kecintaan dan kerinduan hanya akan diperoleh oleh guru yang pantas untuk mendapatkanya.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar