Rabu, 25 Mei 2011

Aku Memanggilnya Cepkur. . .


Kala itu senja, dan langit merah tembaga. Hari itu adalah hari dimana kurasa kebebasanku terenggut oleh keinginan orangtua masuk surga tanpa singgah di neraka. Sore itu mentari tak sanggup lagi menirukan bayangan tubuhku secara utuh, diatas bangunan yang dipasang ditengahnya tulisan ‘Ali bin Abi Tholib’, sebuah nama yang mengingatkanku pada petinju professional, Muhammad Ali. Bangunan berbeton itu menghadap hamparan sawah yang hijau mirip dengan sawah milik mang Kahi dikampungku, Kakek kaya yang konon memelihara tuyul itu. Yang kemudian kuketahui nama tempat terhamparnya sawah itu, Brunei, begitu orang-orang menyebutnya. Kala itu dibenakku hanya ada gambaran wajah orangtuaku dan si Eulis yang setahun setelah kepergianku melahirkan setelah kecelakaan diseruduk oleh ‘anu’nya si Basir tukang ojek yang badanya bau. Tiba-tiba muncul sosok manusia berambut ikal cengar-cengir membubarkan khayalanku yang menjauh ratusan kilometer menuju Kota Kembang.
            “Assalamualaikum….Cecep!” sapanya sambil menjulurkan tangan kanannya yang cukup keras.
            “Iqbal!” kataku sambil menyambut tanganya.
            Kami pun berbincang cukup akrab, Cecep Kurnia nama lengkapnya lalu kemudian aku memanggilnya dengan ‘Cep’, namun seiring berjalanya waktu aku jadi memanggilnya dengan sebutan ‘Cepkur’ akronim dari nama lengkapnya, dia berasal dari Cikajang Garut. Wawasanya tentang Tasik cukup mempuni, bagaimana tidak ternyata dia pernah mendekap selama tiga tahun di Penjara Suci, Cintawana nama pesantrenya. Pesantren yang masih membudayakan tahlilan jika ada orang yang mati. Aku mulai merasa nyaman berbincang denganya serasa punya teman berbagi, terlebih dia asli orang sunda, praktis membuat komunikasi kami berjalan baik, tidak seperti berkomunikasi dengan si Kresna, anak Bekasi yang sempat ku cekoki dengan ‘KEHED’ yang kuterjemahbebaskan dengan ‘PECI’, dia pintar tapi masih bisa kubodohi.
            Adzan maghrib berkumandang lantang, meski suara muadzinnya fals. Pembicaraan kamipun terhenti, memasuki asrama hatiku  mulai tak tenang, aku masih menanti teman baruku yang kutemui ketika testing masuk, Ary namanya asli Tegalega, Bandung. Postur tubuhnya memang kurang meyakinkan, tak lebih tinggi dari adikku. Tapi setidaknya aku merasa sedikit tenang karena aku bisa pulang bersamanya jika liburan tiba (fikiran yang mulai muncul beberapa detik setelah masuk asrama).
Selepas solat, seorang tua menggiring kami untuk makan ke dapur yang aromanya khas, bau! Dengan penuh semangat Cepkur mengajakku dengan senyuman khasnya, sambil membawa piring plastic sisa pertempuranya di pesantren terdahulu.
“Sok leungit siah piring alus kitumah.” Kata si Cecep padaku yang saat itu membawa piring melamin bermotif  bangau sakau. Aku mulai berfikir bahwa pengalaman buruknya bisa ku simpan, dan kubaca jika hal yang sama terjadi padaku.
Perbincangan kamipun berlanjut sampai larut malam, mataku tak kunjung terpejam, selalu dihiasi kampung halaman. Aku mulai menemukan titik kesamaan pada perbincangan itu, kami sama-sama penyuka musik rock. Aku fans berat Linkin Park dan dia sangat mengidolakan Pearl Jam, Slipknot dan Limp Bizkit. Dia hampir hafal lagu-lagunya (meski dinyanyikan asal).
Suasana asrama belum dapat cerahkanku, setelah tahun berlalu sekalipun. Diniyah Wustha nama kelasku, kelas khusus orang-orang yang dianggap ‘bodoh’ hanya karena belum fasih membaca Al-Qur’an dan membaca arab gundul. Namun, sedikit melegakan ketika kelas itu dihuni pula oleh gadis cantik asli Cimahi. Rasa betah mulai menghampiri, karena ada ‘ANJING EDAN’ (meminjam istilah Ust.Jajang).
Suasana kelas cukup kondusif , dihuni empat preman dari Cirebon, segelintir warga Majalengka dan Priangan Timur,ada juga warga sebrang Jawa, termasuk si tua tak bermata, ada juga  pejuang sejati dari Garut dan mojang  bujang Bandung dengan jumlah yang mendominasi kala itu.
Hari-hari kami lalui dengan penuh kisah unik di masa SMP, yang tak pernah dialami si Ovix, santri 3 Tsanawiyah yang kukenal dibawah kipas Masjid An-Nur juga teman-teman lainya, termasuk gadis cantik bersepatu merah kelas 3 Tsanawiyah yang mulai kusuka setelah mojang Cimahi minggat.
Ustadz Ikin kala itu menajadi wali kelas kami, Ustadz yang sederhana  namun ia sangat faqih dalam fiqih. Tapi tetap saja meski sang Ustadz faqih bukan buatan, tak lantas membuat mata Cepkur dan kawan-kawan segar, kami mulai dihinggapi hantu pesantren, bernama An nu’as.
Kala itu cepkur termasuk santri yang sering kesurupan hantu itu, saingan dengan si Toni dan si Vera. Setelah kuselidiki ternyata menurutnya itu dampak dari masa lalunya yang tidak terlalu cerah, secerah wajah si Heri, anak lampung yang sering cuci muka denga ponds mirip perempuan.
Dulu Cepkur pernah menjadi pemakai narkoba berjenis ganja, ujarnya sepulang sekolah mata pelajaran Pak Kepala Sekolah, Profesor. Shiddiq Amien kemudian aku menyebutnya, karena ilmu yang ia miliki layaknya guru besar, bahkan lebih hebat fikirku dengan salah satu Guru Besar di sebuah kampus ternama di kawasan semi Lembang.
Bercerita soal masa lalu Cepkur  yang suram membuatku semakin simpati padanya, perasaan itu memang bermula saat masuk asrama ketika itu orangtuanya tak ikut mengantar, tak sepertiku yang diantar belasan orang, termasuk si Ivan, sahabat baikku sejak kecil. Hal yang Cepkur rasakan sama dengan si Ary, fans berat Iwan Fals itu. Ia menangis sesenggukan kala tahu orangtuanya tak datang saat acara pertemuan orangtua pasca para santri baru bertaaruf, TOP namanya, Taaruf dan Orientasi Pesantren, MOS nama yang digunakan ketika aku SMP dulu.
Cepkur memang tak seberuntungku, tapi ia tampak sangat tenang menghadapi hari-harinya di penjara suci itu, mungkin karena penglaman terdahulunya. Atau bahkan karena latar belakang kami yang berbeda, jika aku masuk pesantren karena dipaksa, bahkan sampai diancam tidak akan lagi diakui sebagai anak oleh Bapakku, Sang Umar Bakri kala itu. Lain halnya dengan Cepkur, dia masuk pesantren di Desa Cipedes itu atas kehendaknya sendiri, bahkan orangtuanya terkesan tidak menyetujui karena khawatir kebiasaan mereka akan dirubah oleh anaknya sendiri yang memilih belajar di kandang titisan Ahmad Hasan.
Menyimak kisah Cepkur yang cukup tragis bagiku, seolah menyadarkanku bahwa ada kebenaran yang datang dari hadits Nabi Muhammad yang diucapkan lewat lisan Ustadzah Enok, katanya kita jangan terus melihat orang yang hidupnya jauh lebih baik dari kita, namun harus sebalikny agar kita lebih bersyukur dan nikmati kasih Tuhan.









Untuk Cecep Kurnia,
Sahabatku, dulu, kini dan sampai nanti,
Atas nama persahabatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar