Kala itu senja, dan langit merah tembaga. Hari
itu adalah hari dimana kurasa kebebasanku terenggut oleh keinginan orangtua
masuk surga tanpa singgah di neraka. Sore itu mentari tak sanggup lagi
menirukan bayangan tubuhku secara utuh, diatas bangunan yang dipasang
ditengahnya tulisan ‘Ali bin Abi Tholib’, sebuah nama yang mengingatkanku pada
petinju professional, Muhammad Ali. Bangunan berbeton itu menghadap hamparan
sawah yang hijau mirip dengan sawah milik mang Kahi dikampungku, Kakek kaya
yang konon memelihara tuyul itu. Yang kemudian kuketahui nama tempat
terhamparnya sawah itu, Brunei, begitu orang-orang menyebutnya. Kala itu
dibenakku hanya ada gambaran wajah orangtuaku dan si Eulis yang setahun setelah
kepergianku melahirkan setelah kecelakaan diseruduk oleh ‘anu’nya si Basir
tukang ojek yang badanya bau. Tiba-tiba muncul sosok manusia berambut ikal
cengar-cengir membubarkan khayalanku yang menjauh ratusan kilometer menuju Kota
Kembang.
“Assalamualaikum….Cecep!”
sapanya sambil menjulurkan tangan kanannya yang cukup keras.
“Iqbal!”
kataku sambil menyambut tanganya.
Kami
pun berbincang cukup akrab, Cecep Kurnia nama lengkapnya lalu kemudian aku
memanggilnya dengan ‘Cep’, namun seiring berjalanya waktu aku jadi memanggilnya
dengan sebutan ‘Cepkur’ akronim dari nama lengkapnya, dia berasal dari Cikajang
Garut. Wawasanya tentang Tasik cukup mempuni, bagaimana tidak ternyata dia
pernah mendekap selama tiga tahun di Penjara Suci, Cintawana nama pesantrenya.
Pesantren yang masih membudayakan tahlilan jika ada orang yang mati. Aku mulai
merasa nyaman berbincang denganya serasa punya teman berbagi, terlebih dia asli
orang sunda, praktis membuat komunikasi kami berjalan baik, tidak seperti
berkomunikasi dengan si Kresna, anak Bekasi yang sempat ku cekoki dengan
‘KEHED’ yang kuterjemahbebaskan dengan ‘PECI’, dia pintar tapi masih bisa
kubodohi.
Adzan
maghrib berkumandang lantang, meski suara muadzinnya fals. Pembicaraan kamipun
terhenti, memasuki asrama hatiku mulai
tak tenang, aku masih menanti teman baruku yang kutemui ketika testing masuk,
Ary namanya asli Tegalega, Bandung. Postur tubuhnya memang kurang meyakinkan,
tak lebih tinggi dari adikku. Tapi setidaknya aku merasa sedikit tenang karena
aku bisa pulang bersamanya jika liburan tiba (fikiran yang mulai muncul
beberapa detik setelah masuk asrama).
Selepas solat, seorang tua menggiring kami
untuk makan ke dapur yang aromanya khas, bau! Dengan penuh semangat Cepkur
mengajakku dengan senyuman khasnya, sambil membawa piring plastic sisa
pertempuranya di pesantren terdahulu.
“Sok leungit siah piring alus kitumah.”
Kata si Cecep padaku yang saat itu membawa piring melamin bermotif bangau sakau. Aku mulai berfikir bahwa pengalaman
buruknya bisa ku simpan, dan kubaca jika hal yang sama terjadi padaku.
Perbincangan kamipun berlanjut sampai larut
malam, mataku tak kunjung terpejam, selalu dihiasi kampung halaman. Aku mulai
menemukan titik kesamaan pada perbincangan itu, kami sama-sama penyuka musik
rock. Aku fans berat Linkin Park dan dia sangat mengidolakan Pearl Jam,
Slipknot dan Limp Bizkit. Dia hampir hafal lagu-lagunya (meski dinyanyikan
asal).
Suasana asrama belum dapat cerahkanku,
setelah tahun berlalu sekalipun. Diniyah Wustha nama kelasku, kelas khusus
orang-orang yang dianggap ‘bodoh’ hanya karena belum fasih membaca Al-Qur’an
dan membaca arab gundul. Namun, sedikit melegakan ketika kelas itu dihuni pula
oleh gadis cantik asli Cimahi. Rasa betah mulai menghampiri, karena ada ‘ANJING
EDAN’ (meminjam istilah Ust.Jajang).
Suasana kelas cukup kondusif , dihuni empat
preman dari Cirebon, segelintir warga Majalengka dan Priangan Timur,ada juga
warga sebrang Jawa, termasuk si tua tak bermata, ada juga pejuang sejati dari Garut dan mojang bujang Bandung dengan jumlah yang mendominasi
kala itu.
Hari-hari kami lalui dengan penuh kisah
unik di masa SMP, yang tak pernah dialami si Ovix, santri 3 Tsanawiyah yang
kukenal dibawah kipas Masjid An-Nur juga teman-teman lainya, termasuk gadis
cantik bersepatu merah kelas 3 Tsanawiyah yang mulai kusuka setelah mojang
Cimahi minggat.
Ustadz Ikin kala itu menajadi wali kelas
kami, Ustadz yang sederhana namun ia
sangat faqih dalam fiqih. Tapi tetap saja meski sang Ustadz faqih bukan buatan,
tak lantas membuat mata Cepkur dan kawan-kawan segar, kami mulai dihinggapi
hantu pesantren, bernama An nu’as.
Kala itu cepkur termasuk santri yang sering
kesurupan hantu itu, saingan dengan si Toni dan si Vera. Setelah kuselidiki
ternyata menurutnya itu dampak dari masa lalunya yang tidak terlalu cerah, secerah
wajah si Heri, anak lampung yang sering cuci muka denga ponds mirip perempuan.
Dulu Cepkur pernah menjadi pemakai narkoba
berjenis ganja, ujarnya sepulang sekolah mata pelajaran Pak Kepala Sekolah,
Profesor. Shiddiq Amien kemudian aku menyebutnya, karena ilmu yang ia miliki
layaknya guru besar, bahkan lebih hebat fikirku dengan salah satu Guru Besar di
sebuah kampus ternama di kawasan semi Lembang.
Bercerita soal masa lalu Cepkur yang suram membuatku semakin simpati padanya, perasaan
itu memang bermula saat masuk asrama ketika itu orangtuanya tak ikut mengantar,
tak sepertiku yang diantar belasan orang, termasuk si Ivan, sahabat baikku
sejak kecil. Hal yang Cepkur rasakan sama dengan si Ary, fans berat Iwan Fals
itu. Ia menangis sesenggukan kala tahu orangtuanya tak datang saat acara pertemuan
orangtua pasca para santri baru bertaaruf, TOP namanya, Taaruf dan Orientasi
Pesantren, MOS nama yang digunakan ketika aku SMP dulu.
Cepkur memang tak seberuntungku, tapi ia
tampak sangat tenang menghadapi hari-harinya di penjara suci itu, mungkin
karena penglaman terdahulunya. Atau bahkan karena latar belakang kami yang
berbeda, jika aku masuk pesantren karena dipaksa, bahkan sampai diancam tidak
akan lagi diakui sebagai anak oleh Bapakku, Sang Umar Bakri kala itu. Lain
halnya dengan Cepkur, dia masuk pesantren di Desa Cipedes itu atas kehendaknya
sendiri, bahkan orangtuanya terkesan tidak menyetujui karena khawatir kebiasaan
mereka akan dirubah oleh anaknya sendiri yang memilih belajar di kandang
titisan Ahmad Hasan.
Menyimak kisah Cepkur yang cukup tragis
bagiku, seolah menyadarkanku bahwa ada kebenaran yang datang dari hadits Nabi
Muhammad yang diucapkan lewat lisan Ustadzah Enok, katanya kita jangan terus
melihat orang yang hidupnya jauh lebih baik dari kita, namun harus sebalikny
agar kita lebih bersyukur dan nikmati kasih Tuhan.
Untuk Cecep Kurnia,
Sahabatku, dulu, kini dan sampai nanti,
Atas nama persahabatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar