SAMBA, kisah yang kufikir tak pernah
berujung walau harus ku gunakan air sungai Citarum yang mirip bajigur untuk
menuliskanya diatas paping blok segi lima yang ada sekeliling Benda. Saking
berharga dan mahalnya, sehingga tak dapat ku lukiskan dengan konkret.
Kisah
kami berlanjut pasca perginya Gunawan dan beberapa teman kami yang lain, yang
dengan sengaja meninggalkan penjara suci. Alasan mereka bermacam-macam, ada
yang karena benci sama sipir penjara, ada yang karena tak tahan dengan aturan disana
dan ada juga yang disebabkan alasan anak TK, tak mau jauh sama mamah.
Waktu
berlalu, hari berganti dan hubungan kami dengan banat semakin mesra, karena
dengan cara itulah kami mengundang rasa betah kedalam jiwa. Ada saja momen yang
mengharuskan kami berkumpul dan berdiskusi. Pada pelajaran Sosiologi misalnya,
pada pelajaran binaan Suami Mrs. Nurikeu yang cantik ini, kami diagendakan
pergi ‘melancong’ ke kampung naga, dengan istilah formal bernama observasi.
Seluruh dari kami diharuskan ikut, mempengaruhi nilai, istilah yang sering
digunakan oleh guru demi mensukseskan misinya. Kamipun terpaksa ikut, meski
harus ngantri di wartel Irham, toko milik Bu Ai guru nahwu yang paling kusuka
sekaligus ibunda si Anne, hanya sebatas untuk menelpon orangtua kami,
menanyakan kabar, sedikit berbasa-basi lalu menuju tujuan utama, minta dikirim
duit!
Kedekatan
itu terwujud dengan dibentuknya pula ‘organisasi’ tak berpedoman di front
banat, SEMUT namanya. Sampai detik ini aku tak tau apa artinya. Sepuluh
Mualimma(u)t, spekulasiku sejak dulu, tapi kemudian tergugurkan jika mereka
naik kelas ke kelas dua atau tiga. Tapi tak apalah, arti sebuah nama bagiku
tidak penting, yang terpenting adalah mereka selalu ada dihatiku, terutama si
Leli, gadis cantik asal Padaherang, anak Pak Nono yang selalu memanggilku ‘De
Iqbal’, sehingga membuatku minder, seolah dianggap belum dewasa oleh beliau.
Tibalah kami pada suatu siang, dimana kami
dihadapkan pada sebuah pilihan. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA), pilihan wajib yang harus ditentukan sebelum naik ke
kelas dua. Pilihan yang tak berguna menurutku setelah berfikir lintas tahun,
buktinya banyak yang loncat jurusan ketika selesai pesantren. Si Aresa bin Kibe
misalnya, pemuda cinta kekasih si Anggi ini ambil jurusan IPA, tapi melanjutkan
kuliah di UGM (Universitas Gambar Maung) dengan konsentrasi studi Ekonomi
Syariah.
“
Kade pilih cing bener…..” Teriak Bu Imas, salah satu pengajar yang juga
adik kandung dari Prof. Shiddiq Amin. Sosok
yang sangat kukagumi, retorikanya sangat baik, dia berhasil buktikan apa
yang dikatakan Larry King, berbicara adalah mempengaruhi. Setiap
kata-katanya dapat merasuk kedalam hati, termasuk sarannya padaku untuk meninggalkan gadis yang kusayangi
karena menurutnya telah dimiliki oleh santri kesayanganya, Sandi Ardiansyah.
“Sok-sok,
kitu wae lila….!” Bu Imas kembali berteriak dari ruang asatidz pada kami
yang tengah berkumpul ditangga depan TU menuju Perpustakaan.
“Lieur
Bu….” Timpal si Ohim (nama aslinya Muhammad Irham) sambil nyengir dengan gaya
khasnya.
Dalam
selembar kertas aku melihat Cepkur memilih kelas IPS tanpa fikir panjang. Lain
halnya denganku yang harus menimbang berulang-ulang karena ingin sekelas dengan
si Leli, tapi aku tak suka matematika dan kimia apalagi fisika. Senada dengan
si Nanang dan si Candi yang tengah
sengit berdiskusi dengan bahasa Cirebon,meski berbisik-bisik karena saat itu jasus
(intel) tengah merajalela.
”Geus
ah gageh..gageh IPS wae jeh….!” Kata si Nanang memprovokasi kami yang
tengah gundah. Si Irfan jelas tak terpengaruh karena sejak lama ia ingin masuk
kelas IPA, mungkin hendak mengikuti jejak Ayahnya yang seorang mantri
kesehatan. Bertolak belakang dengan saudara sepupunya si Sese yang tak
berlama-lama untuk tentukan pilihan, IPS. Pria berbadan gempal ini memang
termasuk kategori makhluk praktis dalam menjalani hidup. Prinsip hidupnya jalani
yang mudah dan tinggalkan yang sulit, dan aku agak sepakat dengan hal itu.
Aku
faham mengapa Cepkur memilih IPS, ia sama sepertiku tak terlalu simpati dengan
angka! Meski sebetulnya di IPS pun kami akan menemukan angka, tapi setidaknya
angka itu ditambah kata ‘rupiah’, dalam pelajaran akuntansi yang membawa kami
ke alam bawah sadar, seolah menjadi milyuner yang banyak harta dan asetnya.
“Sayamah
IPS we ah bos…” kata Cepkur tampak pasrah saat kutanya tentang pilihanya. Lain
halnya dengan si Palupi, pria idealis yang satu ini dengan mantap memilih
jurusan IPA, karena dia memang pintar, meski sering kehilangan sandal karena
kurang ‘pintar’ menjaganya, sama halnya dengan si Kresna.
Cepkur
memang selalu terlihat semangat pada beberapa mata pelajaran IPS ketika masih
di kelas satu muallimin, Sosiologi misalnya yang menuntut diskusi dan
observasi. Kami sering disuruh keluar pesantren untuk berbincang dengan
masyarakat sekitar, menyoal kondisi pesantren dari kaca mata mereka. Cepkur dan
aku sangat menikmati masa-masa itu bahkan tak jarang ia berperan aktif untuk
bertanya dan berbincang dengan masyarakat, meski dengan bahasa sunda yang agak
terbata-bata dan sedikit agak kasar, mungkin karena kebiasaan menggunakan leter
‘B’ di pesantren. Tak jarang pula Cepkur munculkan ide brilliant ketika
observasi.
“Urang ka kota yu ah….” Katanya sambil pura-pura memberhentikan
angkot dan tertawa girang setara dengan anak kecil yang dikasih permen oleh
Ibunya.
Observasi itu membawa hikmah besar bagi
kami, disamping bisa menghirup udara segar, kami juga bisa bershodaqoh pada Bi
Tati pemilik toko makanan bernama unik, ‘Bengkel Perut’. Tapi meski begitu tak
jarang kami harus menelan pil pahit, bagaimana tidak hampir semua warga sekitar
Benda yang kami tanya beranggapan miring tentang pesantren, biasalah dinamika
sosial, begitu guru Sosiologi kami menyebutnya.
Kami berhasil menembus kelas satu dan naik
ke kelas dua, itupun setelah melalui proses pemilihan jurusan yang cukup rumit
karena mesti menyesuaikan dengan nilai rapor kami di kelas satu.
“ Nu peunteun pelajaran IPAna alus asup ka
IPA, nu bututmah di IPS we…” petuah Bu Imas sebelum membagikan kertas yang sudah
ku ceritakan tadi. Bahasa yang sebenarnya kurang kusuka, paradigma yang
diskriminatif menurutku. Sejalan dengan sementara orang yang menganggap bahwa IPA jauh lebih
baik dari IPS. Tapi menurutku tidak, buktinya presiden Rijalul Ghad (OSIS) di angkatan
kami dari IPS!
Bersambung…..
Masih untuk Sang Inspirator…
Cecep Kurnia Nizwar…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar