Rabu, 25 Mei 2011

Saat Aku dan Cepkur 'Berbatik Hijau' (II)


SAMBA, kisah yang kufikir tak pernah berujung walau harus ku gunakan air sungai Citarum yang mirip bajigur untuk menuliskanya diatas paping blok segi lima yang ada sekeliling Benda. Saking berharga dan mahalnya, sehingga tak dapat ku lukiskan dengan konkret.
            Kisah kami berlanjut pasca perginya Gunawan dan beberapa teman kami yang lain, yang dengan sengaja meninggalkan penjara suci. Alasan mereka bermacam-macam, ada yang karena benci sama sipir penjara, ada yang karena tak tahan dengan aturan disana dan ada juga yang disebabkan alasan anak TK, tak mau jauh sama mamah.
            Waktu berlalu, hari berganti dan hubungan kami dengan banat semakin mesra, karena dengan cara itulah kami mengundang rasa betah kedalam jiwa. Ada saja momen yang mengharuskan kami berkumpul dan berdiskusi. Pada pelajaran Sosiologi misalnya, pada pelajaran binaan Suami Mrs. Nurikeu yang cantik ini, kami diagendakan pergi ‘melancong’ ke kampung naga, dengan istilah formal bernama observasi. Seluruh dari kami diharuskan ikut, mempengaruhi nilai, istilah yang sering digunakan oleh guru demi mensukseskan misinya. Kamipun terpaksa ikut, meski harus ngantri di wartel Irham, toko milik Bu Ai guru nahwu yang paling kusuka sekaligus ibunda si Anne, hanya sebatas untuk menelpon orangtua kami, menanyakan kabar, sedikit berbasa-basi lalu menuju tujuan utama, minta dikirim duit!
            Kedekatan itu terwujud dengan dibentuknya pula ‘organisasi’ tak berpedoman di front banat, SEMUT namanya. Sampai detik ini aku tak tau apa artinya. Sepuluh Mualimma(u)t, spekulasiku sejak dulu, tapi kemudian tergugurkan jika mereka naik kelas ke kelas dua atau tiga. Tapi tak apalah, arti sebuah nama bagiku tidak penting, yang terpenting adalah mereka selalu ada dihatiku, terutama si Leli, gadis cantik asal Padaherang, anak Pak Nono yang selalu memanggilku ‘De Iqbal’, sehingga membuatku minder, seolah dianggap belum dewasa oleh beliau.
Tibalah kami pada suatu siang, dimana kami dihadapkan pada sebuah pilihan. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), pilihan wajib yang harus ditentukan sebelum naik ke kelas dua. Pilihan yang tak berguna menurutku setelah berfikir lintas tahun, buktinya banyak yang loncat jurusan ketika selesai pesantren. Si Aresa bin Kibe misalnya, pemuda cinta kekasih si Anggi ini ambil jurusan IPA, tapi melanjutkan kuliah di UGM (Universitas Gambar Maung) dengan konsentrasi studi Ekonomi Syariah.

            “ Kade pilih cing bener…..” Teriak Bu Imas, salah satu pengajar yang juga adik kandung dari Prof. Shiddiq Amin. Sosok  yang sangat kukagumi, retorikanya sangat baik, dia berhasil buktikan apa yang dikatakan Larry King, berbicara adalah mempengaruhi. Setiap kata-katanya dapat merasuk kedalam hati, termasuk sarannya  padaku untuk meninggalkan gadis yang kusayangi karena menurutnya telah dimiliki oleh santri kesayanganya, Sandi Ardiansyah.
            “Sok-sok, kitu wae lila….!” Bu Imas kembali berteriak dari ruang asatidz pada kami yang tengah berkumpul ditangga depan TU menuju Perpustakaan.
            “Lieur Bu….” Timpal si Ohim (nama aslinya Muhammad Irham) sambil nyengir dengan gaya khasnya.
            Dalam selembar kertas aku melihat Cepkur memilih kelas IPS tanpa fikir panjang. Lain halnya denganku yang harus menimbang berulang-ulang karena ingin sekelas dengan si Leli, tapi aku tak suka matematika dan kimia apalagi fisika. Senada dengan si Nanang dan si  Candi yang tengah sengit berdiskusi dengan bahasa Cirebon,meski berbisik-bisik karena saat itu jasus (intel) tengah merajalela.
            Geus ah gageh..gageh IPS wae jeh….!” Kata si Nanang memprovokasi kami yang tengah gundah. Si Irfan jelas tak terpengaruh karena sejak lama ia ingin masuk kelas IPA, mungkin hendak mengikuti jejak Ayahnya yang seorang mantri kesehatan. Bertolak belakang dengan saudara sepupunya si Sese yang tak berlama-lama untuk tentukan pilihan, IPS. Pria berbadan gempal ini memang termasuk kategori makhluk praktis dalam menjalani hidup. Prinsip hidupnya jalani yang mudah dan tinggalkan yang sulit, dan aku agak sepakat dengan hal itu.

            Aku faham mengapa Cepkur memilih IPS, ia sama sepertiku tak terlalu simpati dengan angka! Meski sebetulnya di IPS pun kami akan menemukan angka, tapi setidaknya angka itu ditambah kata ‘rupiah’, dalam pelajaran akuntansi yang membawa kami ke alam bawah sadar, seolah menjadi milyuner yang banyak harta dan asetnya.
            “Sayamah IPS we ah bos…” kata Cepkur tampak pasrah saat kutanya tentang pilihanya. Lain halnya dengan si Palupi, pria idealis yang satu ini dengan mantap memilih jurusan IPA, karena dia memang pintar, meski sering kehilangan sandal karena kurang ‘pintar’ menjaganya, sama halnya dengan si Kresna.
            Cepkur memang selalu terlihat semangat pada beberapa mata pelajaran IPS ketika masih di kelas satu muallimin, Sosiologi misalnya yang menuntut diskusi dan observasi. Kami sering disuruh keluar pesantren untuk berbincang dengan masyarakat sekitar, menyoal kondisi pesantren dari kaca mata mereka. Cepkur dan aku sangat menikmati masa-masa itu bahkan tak jarang ia berperan aktif untuk bertanya dan berbincang dengan masyarakat, meski dengan bahasa sunda yang agak terbata-bata dan sedikit agak kasar, mungkin karena kebiasaan menggunakan leter ‘B’ di pesantren. Tak jarang pula Cepkur munculkan ide brilliant ketika observasi.
“Urang ka kota yu ah….” Katanya sambil pura-pura memberhentikan angkot dan tertawa girang setara dengan anak kecil yang dikasih permen oleh Ibunya.
Observasi itu membawa hikmah besar bagi kami, disamping bisa menghirup udara segar, kami juga bisa bershodaqoh pada Bi Tati pemilik toko makanan bernama unik, ‘Bengkel Perut’. Tapi meski begitu tak jarang kami harus menelan pil pahit, bagaimana tidak hampir semua warga sekitar Benda yang kami tanya beranggapan miring tentang pesantren, biasalah dinamika sosial, begitu guru Sosiologi kami menyebutnya.

Kami berhasil menembus kelas satu dan naik ke kelas dua, itupun setelah melalui proses pemilihan jurusan yang cukup rumit karena mesti menyesuaikan dengan nilai rapor kami di kelas satu.
“ Nu peunteun pelajaran IPAna alus asup ka IPA, nu bututmah di IPS we…” petuah Bu Imas sebelum membagikan kertas yang sudah ku ceritakan tadi. Bahasa yang sebenarnya kurang kusuka, paradigma yang diskriminatif menurutku. Sejalan dengan sementara  orang yang menganggap bahwa IPA jauh lebih baik dari IPS. Tapi menurutku tidak, buktinya presiden Rijalul Ghad (OSIS) di angkatan kami dari IPS!
Bersambung…..




Masih untuk Sang Inspirator…
Cecep Kurnia Nizwar…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar