Rabu, 25 Mei 2011

Mahasiswa "Voiceless"


Dalam dunia pendidikan di Indonesia peserta didik dinamai siswa, itu berlaku pada jenjang SD, SMP, SMA se-derajat.Mereka bersekolah dengan berseragam lengkap dan datang ke sekolah setiap jam 7 berakhir sampai pukul 12, ada pula yang sampai pukul 3 sore.
Mereka datang ke sekolah, masuk kelas, mendengarkan guru menerangkan pelajaran hari itu dengan duduk di kursi dengan rapi, bertanya seperlunya, menjawab jika bisa dan mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) jika dikasih.Dan jika guru yang harus mengajar hari itu tak kunjung datang mereka akan mengobrol dengan teman sebangkunya, bahkan ada pula yang lebih memilih untuk pergi ke kantin dan jajan.
Setelah melalui beberapa tahapan pendidikan sosok bernama siswa tadi berubah nama menjadi “mahasiswa” dengan tambahan kata “maha” diawal.Ditinjau dari segi kegiatan pembelajaran perbedaan jelas terlihat, mulai dari seragam sekolah yang mulai dilucuti, waktu belajar yang bisa “diatur” sesuai keinginan, suasana belajar yang tidak melulu mendengarkan ceramah guru, dan tentunya tempat belajar yang lebih luas dan beragam isinya.
Nampaknya leluhur bangsa ini memiliki impian yang besar dengan menyebut peserta didik di tingkat Perguruan Tinggi dengan sebutan mahasiswa.Tentu bukan hanya karena jenjang  pendidikan mereka yang lebih tinggi, tapi pasti ada rahasia dibalik rahasia (meminjam perkataan Bang Ali Nurdin) dalam kemunculan nama itu.
Mahasiswa, tersusun dari 2 suku kata, maha dan siswa , jika maha kita artikan sebagai sesuatu yang memiliki keluarbiasaan, dan siswa seperti yang telah dijelaskan dimuka, maka mahasiswa adalah siswa yang luarbiasa.Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maha diartikan dengan yang teramat, jika digabung dengan kata lain.Maka seseorang yang menyandang gelar mahasiswa atinya sosok yang teramat kesiswaaanya.
Jika dulu di zaman Presiden Soekarno – Soeharto ada sosok Soe Hok Gie, seorang mahasiswa yang sangat idealis dan sangat peka terhadap keadaan sosial di sekitarnya.Seorang mahasiswa yang sangat menjiwai ke-mahasiswaaanya, dan sadar betul bahwa dengan gelar mahasiswanya itu menuntut ia untuk berusaha menjadi kaum intelektual.Ia tak henti membaca buku, berdiskusi dengan teman-temanya, mendaki gunung dan berbagi dengan alam.Pun kepekaan sosialnya terwujud dalam sikapnya yang tak henti berfikir dan menuangkan ide juga gagasanya dalam sebuah tulisan yang menginspirasi banyak orang dari berbagai kalangan.
Namun, sikap kritis Soe Hok Gie tinggalah kenangan yang tak mungkin terulang.Cerita indah yang telah tercatat dalam sejarah pergerakan mahasiswa.Karena sampai detik ini belum ada Gie-Gie yang baru, yang luar biasa, karena sikapnya diluar kebiasaaan dan hatinya selalu berada diluar (memikirkan nasib oranglain).
Kini, sebagian mahasiswa lebih memilih untuk bungkam dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi, baik di masyarakat secara nasional bahkan dalam lingkup yang lebih kecil (kampus).Kesibukan mereka lebih terfokus pada perkuliahan yang tengah mereka jalani, tugas kuliah dari  dosen, dan setumpuk permasalahan berkenaan dengan biaya hidup.Bahkan, jangankan untuk ikut memikirkan nasib bangsa yang diurus oleh “budak-budak rupiah”, nasib mereka sendiri pun terkesan tak terpikirkan selama tinggal di kampus.Terbukti dengan masih banyaknya mahasiswa yang belum tau akan jadi apa mereka kelak? jalan mana yang akan mereka tuju untuk wujudkan cita-cita mereka? Juga berbagai peristiwa dan kebijakan kampus yang muncul di kampus yang notabene hampir setiap hari mereka datangi.
Suara-suara nyaring mahasiswa pun semakin jarang terdengar dewasa ini, sehingga berbagai kebijakan “penguasa kampus” semakin bebas melenggang tanpa tersaring melalui  nalar sang mahasiswa.Hal itu jelas bukan menggambarkan seorang mahasiswa, dan jika tetap memaksa ingin disebut mahasiswa, maka mahasiswa voiceless menjadi julukan yang tepat bagi mahasiswa yang kering motivasi, kosong dari semangat juang, dan dilanda krisis kepribadian.
Jika begitu relita yang terjadi, lalu apa bedanya antara siswa dan mahasiswa????
           
 NB:
-          Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab IKIP
-          Dan Kampus yang dimaksud dalam catatan ini adalah Kampus tempat Penulis Mengenyam pendidikan S1 nya.
-          Sama halnya dengan mahasiswa yang dimaksud, bahkan mungkin termasuk penulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar