Dalam dunia pendidikan di Indonesia peserta didik dinamai siswa, itu
berlaku pada jenjang SD, SMP, SMA se-derajat.Mereka bersekolah dengan
berseragam lengkap dan datang ke sekolah setiap jam 7 berakhir sampai pukul 12,
ada pula yang sampai pukul 3 sore.
Mereka datang ke sekolah, masuk kelas, mendengarkan guru menerangkan
pelajaran hari itu dengan duduk di kursi dengan rapi, bertanya seperlunya,
menjawab jika bisa dan mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) jika dikasih.Dan jika
guru yang harus mengajar hari itu tak kunjung datang mereka akan mengobrol
dengan teman sebangkunya, bahkan ada pula yang lebih memilih untuk pergi ke
kantin dan jajan.
Setelah melalui beberapa tahapan pendidikan sosok bernama siswa tadi berubah
nama menjadi “mahasiswa” dengan tambahan kata “maha” diawal.Ditinjau dari segi kegiatan
pembelajaran perbedaan jelas terlihat, mulai dari seragam sekolah yang mulai
dilucuti, waktu belajar yang bisa “diatur” sesuai keinginan, suasana belajar
yang tidak melulu mendengarkan ceramah guru, dan tentunya tempat belajar yang
lebih luas dan beragam isinya.
Nampaknya leluhur bangsa ini memiliki impian yang besar dengan menyebut
peserta didik di tingkat Perguruan Tinggi dengan sebutan mahasiswa.Tentu bukan
hanya karena jenjang pendidikan mereka
yang lebih tinggi, tapi pasti ada rahasia dibalik rahasia (meminjam
perkataan Bang Ali Nurdin) dalam kemunculan nama itu.
Mahasiswa, tersusun dari 2 suku kata, maha dan siswa ,
jika maha kita artikan sebagai sesuatu yang memiliki keluarbiasaan, dan siswa
seperti yang telah dijelaskan dimuka, maka mahasiswa adalah siswa yang
luarbiasa.Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maha diartikan
dengan yang teramat, jika digabung dengan kata lain.Maka seseorang yang
menyandang gelar mahasiswa atinya sosok yang teramat kesiswaaanya.
Jika dulu di zaman Presiden Soekarno – Soeharto ada sosok Soe Hok Gie,
seorang mahasiswa yang sangat idealis dan sangat peka terhadap keadaan sosial
di sekitarnya.Seorang mahasiswa yang sangat menjiwai ke-mahasiswaaanya, dan
sadar betul bahwa dengan gelar mahasiswanya itu menuntut ia untuk berusaha
menjadi kaum intelektual.Ia tak henti membaca buku, berdiskusi dengan
teman-temanya, mendaki gunung dan berbagi dengan alam.Pun kepekaan sosialnya
terwujud dalam sikapnya yang tak henti berfikir dan menuangkan ide juga
gagasanya dalam sebuah tulisan yang menginspirasi banyak orang dari berbagai
kalangan.
Namun, sikap kritis Soe Hok Gie tinggalah kenangan yang tak mungkin
terulang.Cerita indah yang telah tercatat dalam sejarah pergerakan mahasiswa.Karena
sampai detik ini belum ada Gie-Gie yang baru, yang luar biasa, karena sikapnya
diluar kebiasaaan dan hatinya selalu berada diluar (memikirkan nasib
oranglain).
Kini, sebagian mahasiswa lebih memilih untuk bungkam dengan berbagai
permasalahan sosial yang terjadi, baik di masyarakat secara nasional bahkan
dalam lingkup yang lebih kecil (kampus).Kesibukan mereka lebih terfokus pada
perkuliahan yang tengah mereka jalani, tugas kuliah dari dosen, dan setumpuk permasalahan berkenaan
dengan biaya hidup.Bahkan, jangankan untuk ikut memikirkan nasib bangsa yang
diurus oleh “budak-budak rupiah”, nasib mereka sendiri pun terkesan tak
terpikirkan selama tinggal di kampus.Terbukti dengan masih banyaknya mahasiswa
yang belum tau akan jadi apa mereka kelak? jalan mana yang akan mereka tuju
untuk wujudkan cita-cita mereka? Juga berbagai peristiwa dan kebijakan kampus
yang muncul di kampus yang notabene hampir setiap hari mereka datangi.
Suara-suara nyaring mahasiswa pun semakin jarang terdengar dewasa ini, sehingga
berbagai kebijakan “penguasa kampus” semakin bebas melenggang tanpa tersaring
melalui nalar sang mahasiswa.Hal itu
jelas bukan menggambarkan seorang mahasiswa, dan jika tetap memaksa ingin
disebut mahasiswa, maka mahasiswa voiceless menjadi julukan yang tepat
bagi mahasiswa yang kering motivasi, kosong dari semangat juang, dan dilanda krisis
kepribadian.
Jika begitu relita yang terjadi, lalu apa bedanya antara siswa dan
mahasiswa????
NB:
-
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa
Arab IKIP
-
Dan Kampus yang dimaksud dalam catatan ini adalah
Kampus tempat Penulis Mengenyam pendidikan S1 nya.
-
Sama halnya dengan mahasiswa yang dimaksud, bahkan
mungkin termasuk penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar