Setahun berlalu, kamipun naik kasta. Muallimin
nama jenjang selanjutnya di pesantren milik Bani Amienullah itu setingkat
dengan SMA/SMK. Kepercayaan diri kami mulai muncul, setelah hampir dua belas
bulan kami ditempa. Kami mulai mengenal semua lekuk kawasan pesantren itu,
mulai dari nama penjaga B-Shop (nama kantin agak modern disana), nama semua
Asatidz, dan yang paling penting adalah nama penjaga sebuah kotak persegi
panjang, yang biasa kami datangi setiap jam 6 pagi, setelah solat dzuhur dan
setelah solat maghrib (itupun kalau ga ada rois yang ngamuk). Tapi untuk
mengenal Bi Uu dan jajaranya memang tidak terlalu sulit bagi kami, kami cukup
sering shaum sunnah, karena memang kami santri, santri baru tepatnya.
Meski
agak kaku karena terlalu lama libur (dua bulan), tapi tak membuat semangatku
surut untuk terus melahap pesantren nomor 67 itu. Terlebih sikap orangtuaku
yang berubah drastis, perhatian mereka sangat ekstra, semua yang kumau langsung
dikabulkan. Tak ayal seperti menemukan jin di poci mas, bisa kuminta semua hal
dan langsung terwujud. Ternyata pengalaman yang sama dirasakan semua alumni DW,
tapi terkecuali Cepkur. Ia sama sekali tak menyinggung dan melukiskan dihadapan
kami kisah indahnya dirumah. Ia memang sosok yang tidak terlalu senang
berbicara dan bercerita, tidak seperti aku, si Ary dan si Nanang, pemain drum
jadi-jadian yang tanggal lahirnya sama denganku . Atau mungkin karena suasana
rumahnya yang tidak terlalu menyenangkan, serumah bersama Pak Ajus yang pemilik
toko matrial itu.
Di
muallimin aku mendapat beberapa teman baru, ada yang datang dari luar Benda, si
Irfan misalnya, santri yang parlente dari pesantren Al-ghifari asli Sumedang,
dan karena itulah ia disemati julukan ‘si tahu’. Atau si Abuy (Abdurrahman Budi
nama aslinya) santri asal Cikoneng yang
nampak sudah dewasa dan agak sholeh itu. Ada juga yang dari tingkat tsanawiyah
dan melanjutkan ke muallimin, si Iming misalnya, santri yang agak sering
senyum, dan tampak bersahabat meski irit berbicara.
Kala itu kelas masih terbagi menjadi
beberapa sekte, sekte luar, sekte tsanawiyah dan aku termasuk di kelompok
ketiga, sekte DW, tapi tak ada sekte Wing Chun, karena itu hanya milik Yip Man,
guru spiritual Bruce Lee. Kekakuan masih terasa terlebih dengan front
tsanawiyah, yang padahal hampir setahun pula kami saling kenal tapi tak lantas
membuat kami akrab. Bagaimana tidak, jenjang kami dianggap sama tapi dalam segi
perlakuan baik dari ustadz ataupun rois (sebutan bagi kakak kelas yang ditugasi
untuk membimbing; lebih tepatnya menjajah) nampak jelas berbeda bahkan sengaja
dibedakan. Dari segi penerapan bahasa misalnya, bagi santri tsanawiyah
berbahasa arab diwajibkan sedangkan bagi santri DW masih berhukum fardu
kifayah; satu kata berbahasa arab sudah menggugurkan kewajiban berbahasa arab dalam sehari, dan
Cepkur biasa mengugurkan kewajibannya dengan kata Ana untuk ‘saya’ dan Ente
untuk ‘kamu’, persis seperti yang dilakukan si Ali, pejuang cinta asal
Cikijing, yang kala itu naksir si Hilda, gadis yang pernah ku taksir juga.
Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi
aku dan kawan-kawan, termasuk Cepkur. Terlebih ia memang agak kaku dalam
berbicara diluar bahasa sunda.
“Urangmah karagok euy ngomong bahasa
Indonesia teh!” ujarnya dalam sebuah perbincangan denganku, usai
menyaksikan santri muallimin yang dibantai kakinya oleh Ustadz Kuncoro.
Hal itu memang pernyataan jujur dari lisan
pemuda santun yang satu ini. Aku menjadi saksi atas kejujuranya, jangankan
berbahasa Arab, bahasa Indonesia saja dia agak kewalahan dan logat sundanya
belum bisa hilang, yang sebetulnya tak tak jauh beda denganku juga si Veni
temanku asal Padaherang dan si Rizal pengangkut air dari Majalengka.
Tapi hal itu tak membuat Cepkur dan aku
khawatir, karena memang secara terang-terangan Ust Endang (EAM nama tenarnya) mengatasnamakan
Prof. Shiddiq Amin memberi kelonggaran bagi santri DW, dalam berbahasa dan
berbagai peraturan lainya.
Seiring berjalanya waktu kekakuan antara
beberapa sekte di 1 muallimin tadi mulai pecah, meski sedikit agak rikuh
menikmatinya. Kala itu Cepkur tengah dekat dengan beberapa anggota sekte
tsanawiyah, si Gunawan, Hildan, Ovix dan yang lainya. Mereka cukup tenar di
Benda, secara mereka jawara basket yang telah malang melintang ditingkat
Nasional Benda. Cepkur termasuk orang yang senang berolahraga dan tak bisa diam, mulai dari basket, sepakbola
sampai beladiri pun ia lakoni. Syufu Taesyukan misalnya, seni beladiri asal
mongol itu Cepkur ikuti begitupun denganku dan si Kresna yang kala itu jadi
tetua peserta latihan, seringkali ia bermandi keringat usai latihan, dan
beranjak ke dapur untuk menenggak air dari ember biru yang besar dengan gayung
merah yang panjang. Bahkan saking hausnya tak jarang ku dapati dia menuangkan
beberapa liter air kemulutnya. Dan menebarkan senyum khasnya pada orang-orang
yang tengah ngantri menunggu dirinya selesai minum.
“ Haus euy, sorry..sorry!” katanya menutupi kesalahan dan
keserakahanya.
Selain ikut Syufu, seingatku Cepkur juga
sering ikut latihan basket bersama anak-anak SANSIS (nama club basket sekte
tsanawiyah), gayanya bak pebasket professional, tapi tak jarang ia ditertawakan
karena gayanya tak diimbangi oleh postur tubuhnya yang tak lebih dari 165 cm.
Kurasa Cepkur pulalah yang menjadi lem
perekat bagi berbagai sekte dikelas saat itu, sosoknya yang polos dan caliweura
memaksa kami (kesemua sekte) untuk mentertawakanya secara berjamaah dalam
berbagai hal. Kamipun mulai bersatu dan beriring sejalan.
SAMBA (Santri Muallimin Benda), nama itu
tertanam hingga kini. Nama yang kami bubuhkan sebagai bukti kebersamaan dan
kekompakan kami,yang tak mau kalah dengan nama genk rois-rois kami kala itu,
SOAD. Nama itu muncul dari lidah si Hildan (buluk nama kerenya), setelah
melalui proses perundingan yang cukup pelik dan dipecahkan dengan pemilu luar
biasa, dalam pemilu waktu itu SAMBA bersaing dengan nama usulan si Latif, AMOEBA
(Anak Moealimin Benda).
Sejak saat itu aku dan pasukanku alumni DW,
si Gugun dengan jajaran stafnya dari Tsanawiyah, dan si Sese, pria kurus yang
berat badanya bersaing denganku menjadi juru bicara sekte luar Benda bersepakat
untuk satu hati dan satu rasa, atas nama SAMBA. Cepkur termasuk salah satu dari
kami yang menikmatinya, buktinya pernah kutemui di bagian belakang bukunya
tulisan ‘SAMBA’ menggunakan gaya penulisan SLIPKNOT yang konon posternya
terpajang rapi di lemari pesantrennya terdahulu.
Tak lama sejak perundingan itu, kami diuji
dengan persoalan yang menimpa si Gugun dan Hanny kekasihnya yang juga satu
sekte denganku. Mereka dipaksa untuk angkat koper dari penjara itu. Itu ujian
pertama bagi kami, harus kehilangan sosok panutan yang setelah kudekati ternyata
sangat baik dan ramah, terlebih ketika membicarakan soal kaum hawa dan ukuran
sepatu kami yang nyaris sama. Yang paling ku sesalkan dari musibah itu adalah
kondisi kami yang belum solid, bukan hanya SAMBA tapi juga dengan anak banat
angkatan kami yang kemudian menjuluki diri dengan sebutan SEMUT.
Suatu siang di kelas berdinding hijau dan
kipas barunya tangisan kami pecah, melepas si Gugun yang entah akan kemana
setelah itu. Itu adalah hari-hari yang paling menyedihkan bagi kami, meski tak
ku dapati ada air di pipi Cepkur, tak seperti si Cecep Ridwan (Sese) yang menangis
sesenggukan, melupakan kiloan daging dan lemak dibadannya. Yakinku bukan karena
tak sedih Cepkur tak menangis, tapi karena ketegaranya bak karang di lautan, ia
tau masalah selalu ada tapi sikapnya yang dingin dan tenang membuat semua masalah
yang menghadang berbalik arah karena takut tak sanggup jatuhkannya.
Bersambung…..
Masih untuk sahabatku…
Cecep Kurnia, yang kemudian aku sebut “Sang
Inspirator”…
Sahabatku, dulu, kini dan sampai nanti….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar