Rabu, 25 Mei 2011

Saat Aku dan Cepkur 'Berbatik Hijau' (I)


Setahun berlalu, kamipun naik kasta. Muallimin nama jenjang selanjutnya di pesantren milik Bani Amienullah itu setingkat dengan SMA/SMK. Kepercayaan diri kami mulai muncul, setelah hampir dua belas bulan kami ditempa. Kami mulai mengenal semua lekuk kawasan pesantren itu, mulai dari nama penjaga B-Shop (nama kantin agak modern disana), nama semua Asatidz, dan yang paling penting adalah nama penjaga sebuah kotak persegi panjang, yang biasa kami datangi setiap jam 6 pagi, setelah solat dzuhur dan setelah solat maghrib (itupun kalau ga ada rois yang ngamuk). Tapi untuk mengenal Bi Uu dan jajaranya memang tidak terlalu sulit bagi kami, kami cukup sering shaum sunnah, karena memang kami santri, santri baru tepatnya.
            Meski agak kaku karena terlalu lama libur (dua bulan), tapi tak membuat semangatku surut untuk terus melahap pesantren nomor 67 itu. Terlebih sikap orangtuaku yang berubah drastis, perhatian mereka sangat ekstra, semua yang kumau langsung dikabulkan. Tak ayal seperti menemukan jin di poci mas, bisa kuminta semua hal dan langsung terwujud. Ternyata pengalaman yang sama dirasakan semua alumni DW, tapi terkecuali Cepkur. Ia sama sekali tak menyinggung dan melukiskan dihadapan kami kisah indahnya dirumah. Ia memang sosok yang tidak terlalu senang berbicara dan bercerita, tidak seperti aku, si Ary dan si Nanang, pemain drum jadi-jadian yang tanggal lahirnya sama denganku . Atau mungkin karena suasana rumahnya yang tidak terlalu menyenangkan, serumah bersama Pak Ajus yang pemilik toko matrial itu.
            Di muallimin aku mendapat beberapa teman baru, ada yang datang dari luar Benda, si Irfan misalnya, santri yang parlente dari pesantren Al-ghifari asli Sumedang, dan karena itulah ia disemati julukan ‘si tahu’. Atau si Abuy (Abdurrahman Budi nama aslinya) santri asal Cikoneng  yang nampak sudah dewasa dan agak sholeh itu. Ada juga yang dari tingkat tsanawiyah dan melanjutkan ke muallimin, si Iming misalnya, santri yang agak sering senyum, dan tampak bersahabat meski irit berbicara.
Kala itu kelas masih terbagi menjadi beberapa sekte, sekte luar, sekte tsanawiyah dan aku termasuk di kelompok ketiga, sekte DW, tapi tak ada sekte Wing Chun, karena itu hanya milik Yip Man, guru spiritual Bruce Lee. Kekakuan masih terasa terlebih dengan front tsanawiyah, yang padahal hampir setahun pula kami saling kenal tapi tak lantas membuat kami akrab. Bagaimana tidak, jenjang kami dianggap sama tapi dalam segi perlakuan baik dari ustadz ataupun rois (sebutan bagi kakak kelas yang ditugasi untuk membimbing; lebih tepatnya menjajah) nampak jelas berbeda bahkan sengaja dibedakan. Dari segi penerapan bahasa misalnya, bagi santri tsanawiyah berbahasa arab diwajibkan sedangkan bagi santri DW masih berhukum fardu kifayah; satu kata berbahasa arab sudah menggugurkan  kewajiban berbahasa arab dalam sehari, dan Cepkur biasa mengugurkan kewajibannya dengan kata Ana untuk ‘saya’ dan Ente untuk ‘kamu’, persis seperti yang dilakukan si Ali, pejuang cinta asal Cikijing, yang kala itu naksir si Hilda, gadis yang pernah ku taksir juga.
Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi aku dan kawan-kawan, termasuk Cepkur. Terlebih ia memang agak kaku dalam berbicara diluar bahasa sunda.
Urangmah karagok euy ngomong bahasa Indonesia teh!” ujarnya dalam sebuah perbincangan denganku, usai menyaksikan santri muallimin yang dibantai kakinya oleh Ustadz Kuncoro.
Hal itu memang pernyataan jujur dari lisan pemuda santun yang satu ini. Aku menjadi saksi atas kejujuranya, jangankan berbahasa Arab, bahasa Indonesia saja dia agak kewalahan dan logat sundanya belum bisa hilang, yang sebetulnya tak tak jauh beda denganku juga si Veni temanku asal Padaherang dan si Rizal pengangkut air dari Majalengka.
Tapi hal itu tak membuat Cepkur dan aku khawatir, karena memang secara terang-terangan Ust Endang (EAM nama tenarnya) mengatasnamakan Prof. Shiddiq Amin memberi kelonggaran bagi santri DW, dalam berbahasa dan berbagai peraturan lainya.
Seiring berjalanya waktu kekakuan antara beberapa sekte di 1 muallimin tadi mulai pecah, meski sedikit agak rikuh menikmatinya. Kala itu Cepkur tengah dekat dengan beberapa anggota sekte tsanawiyah, si Gunawan, Hildan, Ovix dan yang lainya. Mereka cukup tenar di Benda, secara mereka jawara basket yang telah malang melintang ditingkat Nasional Benda. Cepkur termasuk orang yang senang berolahraga dan tak  bisa diam, mulai dari basket, sepakbola sampai beladiri pun ia lakoni. Syufu Taesyukan misalnya, seni beladiri asal mongol itu Cepkur ikuti begitupun denganku dan si Kresna yang kala itu jadi tetua peserta latihan, seringkali ia bermandi keringat usai latihan, dan beranjak ke dapur untuk menenggak air dari ember biru yang besar dengan gayung merah yang panjang. Bahkan saking hausnya tak jarang ku dapati dia menuangkan beberapa liter air kemulutnya. Dan menebarkan senyum khasnya pada orang-orang yang tengah ngantri menunggu dirinya selesai minum.
“ Haus euy, sorry..sorry!” katanya menutupi kesalahan dan keserakahanya.
Selain ikut Syufu, seingatku Cepkur juga sering ikut latihan basket bersama anak-anak SANSIS (nama club basket sekte tsanawiyah), gayanya bak pebasket professional, tapi tak jarang ia ditertawakan karena gayanya tak diimbangi oleh postur tubuhnya yang tak lebih dari 165 cm.
Kurasa Cepkur pulalah yang menjadi lem perekat bagi berbagai sekte dikelas saat itu, sosoknya yang polos dan caliweura memaksa kami (kesemua sekte) untuk mentertawakanya secara berjamaah dalam berbagai hal. Kamipun mulai bersatu dan beriring sejalan.
SAMBA (Santri Muallimin Benda), nama itu tertanam hingga kini. Nama yang kami bubuhkan sebagai bukti kebersamaan dan kekompakan kami,yang tak mau kalah dengan nama genk rois-rois kami kala itu, SOAD. Nama itu muncul dari lidah si Hildan (buluk nama kerenya), setelah melalui proses perundingan yang cukup pelik dan dipecahkan dengan pemilu luar biasa, dalam pemilu waktu itu SAMBA bersaing dengan nama usulan si Latif, AMOEBA (Anak Moealimin Benda).
Sejak saat itu aku dan pasukanku alumni DW, si Gugun dengan jajaran stafnya dari Tsanawiyah, dan si Sese, pria kurus yang berat badanya bersaing denganku menjadi juru bicara sekte luar Benda bersepakat untuk satu hati dan satu rasa, atas nama SAMBA. Cepkur termasuk salah satu dari kami yang menikmatinya, buktinya pernah kutemui di bagian belakang bukunya tulisan ‘SAMBA’ menggunakan gaya penulisan SLIPKNOT yang konon posternya terpajang rapi di lemari pesantrennya terdahulu.
Tak lama sejak perundingan itu, kami diuji dengan persoalan yang menimpa si Gugun dan Hanny kekasihnya yang juga satu sekte denganku. Mereka dipaksa untuk angkat koper dari penjara itu. Itu ujian pertama bagi kami, harus kehilangan sosok panutan yang setelah kudekati ternyata sangat baik dan ramah, terlebih ketika membicarakan soal kaum hawa dan ukuran sepatu kami yang nyaris sama. Yang paling ku sesalkan dari musibah itu adalah kondisi kami yang belum solid, bukan hanya SAMBA tapi juga dengan anak banat angkatan kami yang kemudian menjuluki diri dengan sebutan SEMUT.
Suatu siang di kelas berdinding hijau dan kipas barunya tangisan kami pecah, melepas si Gugun yang entah akan kemana setelah itu. Itu adalah hari-hari yang paling menyedihkan bagi kami, meski tak ku dapati ada air di pipi Cepkur, tak seperti si Cecep Ridwan (Sese) yang menangis sesenggukan, melupakan kiloan daging dan lemak dibadannya. Yakinku bukan karena tak sedih Cepkur tak menangis, tapi karena ketegaranya bak karang di lautan, ia tau masalah selalu ada tapi sikapnya yang dingin dan tenang membuat semua masalah yang menghadang berbalik arah karena takut tak sanggup jatuhkannya.
Bersambung…..









Masih untuk sahabatku…
Cecep Kurnia, yang kemudian aku sebut “Sang Inspirator”
Sahabatku, dulu, kini dan sampai nanti….



Tidak ada komentar:

Posting Komentar