Minggu, 29 Mei 2011

Namanya Kampungan tapi Otaknya Bertaraf Internasional



            Al kisah di sebuah negeri tinggal seorang pemuda yang sangat cerdas, umurnya  baru sampai pada seperempat abad dan dia belum menikah. Wawasan keilmuanya sangat matang,  berbagai hal  ia ketahui dan fahami, terlebih dalam ilmu agama Islam juga bahasa arab. Karena hal itu pulalah tujuh kali ia naik haji bersama para tetangga yang kaya raya minta dibimbing olehnya. Pemuda yang sangat mujur, mungkin karena do’a dari ibunya yang wafat ketika melahirkan anak yang ketujuh, yaitu dirinya. Dan karena lahir terakhir dari rahim ibunya itu, ia dinamai Akhirudin, dipanggil Udin. Namanya terkenal di seantero jagat, bagaimana tidak, saat berusia 23 tahun ia berhasil mempermalukan anak pejabat di Israel  yang beragama Yahudi lewat debat tentang kemurnian Al-Qur’an.
            Suatu hari ia diundang menghadiri ulang tahun seorang saudagar kaya raya dari Inggris, perayaan yang dihadiri oleh orang-orang terpandang dan berpengaruh dari berbagai negri. Kala itu ia mewakili pemuda di Negrinya, bahkan mungkin sekaligus mewakili ulama di Negerinya yang enggan menghadiri undangan dari yang bukan Muslim (Inggris).
            Meski baru pertama kali Udin menghadiri pesta orang Eropa, tapi sama sekali tak membuatnya bingung untuk memilih pakaian, ia memakai pakaian rakyat biasa dan mengenakan kopiah di kepalanya. Ia tak merasa risih sedikitpun dengan pandangan mata orang-orang ketika melihat pakaiannya, baginya berpakaian mewah itu hanya jika menghadap Sang Pencipta saja dalam sholat dan ketika menghadapi jama’ahnya saat pengajian.
            Acara diawali dengan tiup lilin dan potong kue, sebagaimana adat orang Eropa. Dan tibalah pada acara terakhir, makan bersama.
            Seluruh tamu undangan telah berkumpul dengan rapi mengelilingi meja makan yang telah dihiasi berbagai makanan lezat. Dihadapan mereka tampak piring kosong yang dibalik dan di sampingnya ada sendok dan garpu dalam posisi menyilang. Udin memilih posisi berhadapan dengan tuan rumah, tepatnya disamping Pak Wali Kota yang kala itu ikut hadir.
            Saudagar Inggris selaku tuan rumah berbicara sejenak lalu mempersilakan para undangan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan, dan acara makan pun dimulai. Mereka memilih dan menikmati makanan dengan peralatan yang telah disediakan, hanya Udin saja yang lebih memilih memakan nasi kebuli kesukaanya dengan tangan, dan membiarkan sendok dan garpu menganggur.
“ Hei Udin makanlah dengan sendok dan garpu yang telah disediakan. Mereka memperhatikanmu,” Bisik Pak Wali Kota mengingatkan.
“Pak, anda makan pakai tangan atau kaki? “ tanya Udin.
“Tentu saja pakai tangan.” Jawab Wali Kota kesal.
“Apa anda lihat aku makan pakai kaki?” tanya Udin sambil kembali melahap nasi      kebulinya.
            Akhirnya saudagar Inggris selaku tuan rumah melihat apa yang Udin lakukan, dan ia menegurnya, sehingga membuat yang lain terdiam dan ikut terheran-heran melihat tingkah si Udin.
            “Ehem, ehem. Tuan Udin, bisakah Anda menggunakan sendok?” tegur tuan rumah.
            “Tentu saja bisa tuan.” Jawab si Udin santai.
“Mengapa tidak kau gunakan? ”
            “Maaf, Tuan-tuan sekalian. Dalam sehari saya membersihkan diri lima kali. Jadi saya tahu betul kebersihan tangan saya dibandingkan dengan kebersihan sendok ini . Oh maaf sekali lagi. Tuan-tuan mungkin jarang membersihkan diri sehingga lebih mempercayai kebersihan sendok daripada kebersihan tangan Tuan-tuan sendiri.” Ujar Udin lalu membersihkan tangan dengan air dalam mangkok kecil.
            Perkataan udin benar-benar mempengaruhi para undangan. Karena takut dicap jarang membersihkan diri, para undangan segera meletakan sendok dan garpu. Mereka saling pandang sejenak, lalu dengan malu-malu mereka makan dengan tangan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar