Al kisah di sebuah negeri tinggal
seorang pemuda yang sangat cerdas, umurnya baru sampai pada seperempat abad dan dia belum
menikah. Wawasan keilmuanya sangat matang, berbagai hal ia ketahui dan fahami, terlebih dalam ilmu
agama Islam juga bahasa arab. Karena hal itu pulalah tujuh kali ia naik haji
bersama para tetangga yang kaya raya minta dibimbing olehnya. Pemuda yang
sangat mujur, mungkin karena do’a dari ibunya yang wafat ketika melahirkan anak
yang ketujuh, yaitu dirinya. Dan karena lahir terakhir dari rahim ibunya itu,
ia dinamai Akhirudin, dipanggil Udin. Namanya terkenal di seantero jagat,
bagaimana tidak, saat berusia 23 tahun ia berhasil mempermalukan anak pejabat
di Israel yang beragama Yahudi lewat
debat tentang kemurnian Al-Qur’an.
Suatu hari ia diundang menghadiri
ulang tahun seorang saudagar kaya raya dari Inggris, perayaan yang dihadiri
oleh orang-orang terpandang dan berpengaruh dari berbagai negri. Kala itu ia
mewakili pemuda di Negrinya, bahkan mungkin sekaligus mewakili ulama di Negerinya
yang enggan menghadiri undangan dari yang bukan Muslim (Inggris).
Meski baru pertama kali Udin menghadiri
pesta orang Eropa, tapi sama sekali tak membuatnya bingung untuk memilih
pakaian, ia memakai pakaian rakyat biasa dan mengenakan kopiah di kepalanya. Ia
tak merasa risih sedikitpun dengan pandangan mata orang-orang ketika melihat
pakaiannya, baginya berpakaian mewah itu hanya jika menghadap Sang Pencipta
saja dalam sholat dan ketika menghadapi jama’ahnya saat pengajian.
Acara diawali dengan tiup lilin dan
potong kue, sebagaimana adat orang Eropa. Dan tibalah pada acara terakhir,
makan bersama.
Seluruh tamu undangan telah
berkumpul dengan rapi mengelilingi meja makan yang telah dihiasi berbagai
makanan lezat. Dihadapan mereka tampak piring kosong yang dibalik dan di
sampingnya ada sendok dan garpu dalam posisi menyilang. Udin memilih posisi
berhadapan dengan tuan rumah, tepatnya disamping Pak Wali Kota yang kala itu
ikut hadir.
Saudagar Inggris selaku tuan rumah berbicara
sejenak lalu mempersilakan para undangan untuk menikmati hidangan yang telah
disediakan, dan acara makan pun dimulai. Mereka memilih dan menikmati makanan dengan
peralatan yang telah disediakan, hanya Udin saja yang lebih memilih memakan
nasi kebuli kesukaanya dengan tangan, dan membiarkan sendok dan garpu
menganggur.
“ Hei Udin makanlah dengan sendok dan garpu yang telah disediakan.
Mereka memperhatikanmu,” Bisik Pak Wali Kota mengingatkan.
“Pak, anda makan pakai tangan atau kaki? “ tanya Udin.
“Tentu saja pakai tangan.” Jawab Wali Kota kesal.
“Apa anda lihat aku makan pakai kaki?” tanya Udin sambil kembali
melahap nasi kebulinya.
Akhirnya saudagar Inggris selaku
tuan rumah melihat apa yang Udin lakukan, dan ia menegurnya, sehingga membuat
yang lain terdiam dan ikut terheran-heran melihat tingkah si Udin.
“Ehem, ehem. Tuan Udin, bisakah Anda
menggunakan sendok?” tegur tuan rumah.
“Tentu saja bisa
tuan.” Jawab si Udin santai.
“Mengapa tidak kau gunakan? ”
“Maaf, Tuan-tuan
sekalian. Dalam sehari saya membersihkan diri lima kali. Jadi saya tahu betul kebersihan
tangan saya dibandingkan dengan kebersihan sendok ini . Oh maaf sekali lagi.
Tuan-tuan mungkin jarang membersihkan diri sehingga lebih mempercayai
kebersihan sendok daripada kebersihan tangan Tuan-tuan sendiri.” Ujar Udin lalu
membersihkan tangan dengan air dalam mangkok kecil.
Perkataan udin benar-benar
mempengaruhi para undangan. Karena takut dicap jarang membersihkan diri, para
undangan segera meletakan sendok dan garpu. Mereka saling pandang sejenak, lalu
dengan malu-malu mereka makan dengan tangan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar