Minggu, 29 Mei 2011

Namanya Kampungan tapi Otaknya Bertaraf Internasional



            Al kisah di sebuah negeri tinggal seorang pemuda yang sangat cerdas, umurnya  baru sampai pada seperempat abad dan dia belum menikah. Wawasan keilmuanya sangat matang,  berbagai hal  ia ketahui dan fahami, terlebih dalam ilmu agama Islam juga bahasa arab. Karena hal itu pulalah tujuh kali ia naik haji bersama para tetangga yang kaya raya minta dibimbing olehnya. Pemuda yang sangat mujur, mungkin karena do’a dari ibunya yang wafat ketika melahirkan anak yang ketujuh, yaitu dirinya. Dan karena lahir terakhir dari rahim ibunya itu, ia dinamai Akhirudin, dipanggil Udin. Namanya terkenal di seantero jagat, bagaimana tidak, saat berusia 23 tahun ia berhasil mempermalukan anak pejabat di Israel  yang beragama Yahudi lewat debat tentang kemurnian Al-Qur’an.
            Suatu hari ia diundang menghadiri ulang tahun seorang saudagar kaya raya dari Inggris, perayaan yang dihadiri oleh orang-orang terpandang dan berpengaruh dari berbagai negri. Kala itu ia mewakili pemuda di Negrinya, bahkan mungkin sekaligus mewakili ulama di Negerinya yang enggan menghadiri undangan dari yang bukan Muslim (Inggris).
            Meski baru pertama kali Udin menghadiri pesta orang Eropa, tapi sama sekali tak membuatnya bingung untuk memilih pakaian, ia memakai pakaian rakyat biasa dan mengenakan kopiah di kepalanya. Ia tak merasa risih sedikitpun dengan pandangan mata orang-orang ketika melihat pakaiannya, baginya berpakaian mewah itu hanya jika menghadap Sang Pencipta saja dalam sholat dan ketika menghadapi jama’ahnya saat pengajian.
            Acara diawali dengan tiup lilin dan potong kue, sebagaimana adat orang Eropa. Dan tibalah pada acara terakhir, makan bersama.
            Seluruh tamu undangan telah berkumpul dengan rapi mengelilingi meja makan yang telah dihiasi berbagai makanan lezat. Dihadapan mereka tampak piring kosong yang dibalik dan di sampingnya ada sendok dan garpu dalam posisi menyilang. Udin memilih posisi berhadapan dengan tuan rumah, tepatnya disamping Pak Wali Kota yang kala itu ikut hadir.
            Saudagar Inggris selaku tuan rumah berbicara sejenak lalu mempersilakan para undangan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan, dan acara makan pun dimulai. Mereka memilih dan menikmati makanan dengan peralatan yang telah disediakan, hanya Udin saja yang lebih memilih memakan nasi kebuli kesukaanya dengan tangan, dan membiarkan sendok dan garpu menganggur.
“ Hei Udin makanlah dengan sendok dan garpu yang telah disediakan. Mereka memperhatikanmu,” Bisik Pak Wali Kota mengingatkan.
“Pak, anda makan pakai tangan atau kaki? “ tanya Udin.
“Tentu saja pakai tangan.” Jawab Wali Kota kesal.
“Apa anda lihat aku makan pakai kaki?” tanya Udin sambil kembali melahap nasi      kebulinya.
            Akhirnya saudagar Inggris selaku tuan rumah melihat apa yang Udin lakukan, dan ia menegurnya, sehingga membuat yang lain terdiam dan ikut terheran-heran melihat tingkah si Udin.
            “Ehem, ehem. Tuan Udin, bisakah Anda menggunakan sendok?” tegur tuan rumah.
            “Tentu saja bisa tuan.” Jawab si Udin santai.
“Mengapa tidak kau gunakan? ”
            “Maaf, Tuan-tuan sekalian. Dalam sehari saya membersihkan diri lima kali. Jadi saya tahu betul kebersihan tangan saya dibandingkan dengan kebersihan sendok ini . Oh maaf sekali lagi. Tuan-tuan mungkin jarang membersihkan diri sehingga lebih mempercayai kebersihan sendok daripada kebersihan tangan Tuan-tuan sendiri.” Ujar Udin lalu membersihkan tangan dengan air dalam mangkok kecil.
            Perkataan udin benar-benar mempengaruhi para undangan. Karena takut dicap jarang membersihkan diri, para undangan segera meletakan sendok dan garpu. Mereka saling pandang sejenak, lalu dengan malu-malu mereka makan dengan tangan mereka.

Rabu, 25 Mei 2011

Studi Kasus Bimbingan dan Konseling


A.    Latar Belakang Masalah

Al kisah seorang anak sekolah bernama Dona dibagi rapot di sekolahnya, dan ia mendapati  rapotnya jelek sekali, nilai-nilainya ditulis dengan tinta merah menandakan betapa buruknya hasil belajarnya. Mau tidak mau ia harus memberitahukan rapot itu pada ibunya, ia berfikir keras sehingga ia  mendapatkan sebuah  rencana cerdas untuk memberitahukan rapot yang merah tadi kepada ibunya, ia membuat surat dalam secarik kertas ditujukan kepada ibunya, dalam surat itu ia menulis:
“Ma, dengan sangat menyesal dan mohon ampunan dari Mama. Saya harus bilang saya kabur dengan pacar baruku namanya Samson. Saya cinta banget sama dia dan dia juga kereeen banget dengan tato di seluruh tubuhnya juga tindikan dimana-mana.
“Oh ya dia pake motor gede lo, Ma. Bukan itu aja, Ma. Saya sedang hamil dan Samson bilang kami akan bahagia tinggal di pondoknya di hutan. Dia pingin punya banyak anak dan itu emang impianku.
“Oh ya, Ma ternyata mariyuana tuh nggak akan membahayakan kok dan kami berencana menanamnya untuk kami dan juga teman-teman. Kami barteran dengan ekstasi dan kokain. Sementara itu kami berdoa mudah-mudahan ilmuwan bisa cepat menemukan obat penyembuh AIDS supaya Samson lekas sembuh.
“Mama nggak perlu kuatir, Dona kan udah 15 tahun, udah tau gimana jaga diri. Mungkin nanti Dona akan mengunjungi Mama untuk ngenalin cucu Mama.”
Dengan Cinta, Anakmu Dona.

Sontak surat itu membuat si Ibu tersentak dan shock, namun di akhir surat si anak menulis catatan, yang berbunyi:

NB: Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…
Sebagai bentuk aplikasi dari mata kuliah Bimbingan dan konseling, maka penyusun akan mencoba lakukan analisis kasus tersebut. Karena tindakan yang dilakukan oleh anak tadi jelas beralasan dan gejala seperti itu menjadi bahasan  Bimbingan dan Konseling.


B.     Rumusan Masalah

Dengan demikian analisis kasus ini akan berlandaskan pada beberapa pertanyaan:
-          Apa yang terjadi pada Dona dalam pandangan bimbingan dan konseling?
-          Jika menjadi  wali kelas Dona bagaimana dan apa yang harus dilakukan pada Dona dan orang tuanya?
-          Apa pembelajaran yang dapat diperoleh dari paparan sebagai calon guru yang harus memerankan fungsi sebagai pembimbing?
-          Lalu kualitas apa yang harus dikembangkan untuk menjadi guru yang professional dan  “Guru yang dirindukan siswa?

C.    Pemecahan Masalah
Kondisi Dona dari Tinjauan BK
Jika kita amati cerita tadi, Dona si anak yang bertingkah aneh namun cerdas, berumur 15 tahun. Siswa yang diprediksi bersekolah ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini tentu memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal itu pada ibunhya sendiri. Padahal bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ibunya setelah membaca surat tadi, tanpa membaca bagian akhir dari surat tersebut.
Dalam tinjauan bimbingan dan konseling Dona mengalami sebuah masalah pribadi; yang Akhman Nani sebut dengan istilah belum memilikki rasa disiplin dan melakukan sesuatu tanpa pertimbangkan resikonya. Hal itu jelas terjadi pada Dona ketika menulis surat yang “aneh” namun cerdas itu pada ibunya.
Tapi yang menjadi inti dari permasalahan Dona adalah, ia ingin ibunya tidak memarahinya ketika tahu bahwwa nilai rapotnya jelek, maka ia buat sebuah perbandingan masalah yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan hanya sekedar rapot merah. Nampakya Dona berharap ibunya justru dapat lebih menyayanginya setelah menyuguhkan peristiwa terburuk yang diutarakan dalam “surat fiktif” itu. Meski sebetulnya memungkinkan pula jika ibunya bersikap sebaliknya, marah bear pada Dona yang telah permainkan perasaanya.
            Hal itu terbukti dengan catatan tambahan yang dibubuhkan oleh Dona di akhir suratnya, “NB: Ma, nggak kok… Semuanya boongan, hihihihihih. Sekarang Dona lagi di rumah tetangga sebelah. Dona cuma mau nunjukin bahwa masih ada hal lain yang lebih jelek dalam hidup daripada sekedar nilai raport yang banyak merahnya. TUH, ADA DI MEJA BELAJAR DONA….I LOVE YOU, MA…” maka hal itu pulalah yang menjadi misi utama Dona, memberitahu soal rapot merah kepada ibunya tapi tidak secara langsung, bahkan terkesan meminta simpati pada ibunya. Dona pun termasuk kategori orang yang bermasalah, dengan indikasi ia melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan atau dihitung sesuai takaran usia dan jenjang pendidikan (Kartini Kartono).

            Tindakan Jika Kita Ada di Posisi Wali Kelas Dona
            Jika kita memposisikan diri sebagai wali kelas Dona, tentu ada dua orang objek yang harus kita tangani, yaitu Dona dan ibunya. Ditinjau dari ragam bimbingan Dona tergolong objek yang bermasalah dalam segi akademik dan keluarga. Karena nilai rapot yang merah jelas menjadi indikasi bahwa tingkat kecerdasan Dona tidak terlalu tinggi, tentu memliki latar belakang yang beragam. Pun halnya dengan permasalahan di keluarga, cara Dona memberitahukan nilai rapot kepada ibunya menjadi indikasi betapa jauhnya jarak jalinan keluarga tersebut, atau bahkan mungkin ibu Dona tipe orang yang temperamental, sehingga Dona enggan untuk memberitahukan secara langsung. Perlu diadakan pendekatan yang khusus pula pada ibu Dona, agar merubah gaya mendidik anaknya dirumah, dan meyakinkannya bahwa menjadi orangtua yang lebih bersahabat dengan anak itu lebih baik, bahkan lebih dihormati bukan ditakuti.
            Adapun dalam segi macam layanan bimbingan dapat dilakukan dengan layanan responsif dengan membantu memenuhi kebutuhan objek (dalam hal ini Dona) yang sangat mendesak, dan layanan ini ;ebih bersifat preventif atau bahkan kuratif. Hal itu sebagai upaya penolongan pertama agar tidak melakukan hal yang membahayakan, dan tidakan pencegahan agar saat gejala yang sama terjadi, efeknya tidak terulang.
            Dari segi pendekatan bimbingan dapat dilakukan pendekatan krisis. Melihat kasus yang dialami oleh Dona terlihat bahwa dia tengah mengalami krisis keribadian, sehingga ia tidak terlalu kuta untuk berkata secara langung dengan ibunya. Dan Nampak terlihat pula ada peristiwa yang serupa dengan itu di masa yang lampau namun masih membekas dalam jiwa Dona. Dan hal itu jelas harus diperbaiki dan dihilangkan dari fikiran Dona agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh dalam menyikapai permasalahan yang tengah ia hadapi.
            Dan ditinjau dari ragam  teknik bimbingan, masalah Dona ini harus ditangani dengan cara  konseling dan nasehat. Konseling dapat dilakukan dengan cara wawancara dengan konseli (objek), agar informasi dapat lebih valid karena bersumber dari konseli lansung. Dan istimewanya konseling, kita tidak perlu melakukan penilaian , jadi hanya sebatas mengusut untuk daptkan informasi saja. Adapun untuk tindakan selanjutnya yaitu dilakukan teknik nasehat, konseli diberi beberapa saran tentang permasalahan yang tengah dihadapi olehnya. Dengan cara seperti itu bimbingan akan lebih efektif dan mengena pada jiwa dan hati konseli, Dona.

            Hikmah Dari Cerita Dona Bagi Guru yang Berfungsi Sebagai Pembimbing
Cerita yang menarik tentang Dona dan ibunya tadi, tentu mengandung banyak hal positif yang dapat diambil  bagi para guru tang pada hakikatnya juga memiliki fungsi sebagai pembimbing, disamping tugasnya sebagai pengajar di kelas.
Pertama, Dona adalah salah satu contoh dari ribuan objek yang bisa jadi memiliki kasus yang sama atau bahkan lebih dari itu. Maka cara standar adalah memperbanyak pengetahuan tentang kejiwaan siswa yang tengah ditangani, agar kita tidak tergolong guru-guru yang terlambat dalam menangani kasus siswa.
Kedua, kisah Dona menjadi pelajaran bagi semua orangtua, baik orangtua di rumah atau orangtua di sekolah (guru), bahwa anak/siswa dapat melakukan hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya, jika tindakan itu positif maka artinya hal itu dampak dari kebaikan kita pada siswa tersebut, namun jika sebaliknya maka artinya itupun merupakan wujud terakumulasi kepenatan yang dirasakan siswa terhadap kita.
Ketiga, Memutuskan untuk menjadi guru artinya kita memutuskan untuk memutuskan perhatian pada anak didik kita. Dari hal yang terlihat sampai yang tak nampak dari siswa harus kita telaah dan kuasai secara mendalam, karena pada dasarnya semua orang senang diperhatikan terlebih pada usia-usia sekolah, Dona misalnya. Sikap yang ia lakukan pada ibunya dengan menulis surat itu jelas menunjukan bahwa ia tidak terlalu akrab dengan ibunya.





Menjadi “Guru yang Dirindu”
Proses belajar mengajar yang baik akan terwujud jika terjadi kesinambungan antara pendidik dan peserta didik. Peserta didik yang semangat dan giat ditambah dengan guru yang cerdaslah formulanya untuk wujudkan itu semua.
Namun masih banyak guru bahkan calon guru yang tidak memikirkan pengembangan pribadi guru tersebut. Dalam berpakaian saja masih banyak yang kurang memperhatikannya. Pun untuk sunggingan bibir, masih sering ditemukan guru yang enggan melakukanya, padahal bagi siswa  senyuman seorang guru itu menjadi energy yang sangat hebat sebelum KBM dimulai.
Kepintaran akan pelajaran yang digeluti jelas mutlak diperlukan oleh seorang guru, namun harus diikuti dengan innovasi dalam belajar. Diselingi humor pun tidak akan mengurangi charisma seorang guru, bahkan justru menjadikan sang guru lebih dicinta dan dirindu.
Intinya adalah seorang guru harus senantiasa berusaha menjadi pribadi yang baik. Bersikap dengan sikap yang pantas untuk dirindukan oleh siswa-siswanya, karena penghormatan, kecintaan dan kerinduan hanya akan diperoleh oleh guru yang pantas untuk mendapatkanya.
















Kitab-kitab Tafsir Terkenal


Perpustakaan Islam dipenuhi dengan kitab-kitab tafsir bil ma’sur, tafsir bi ra’yi dan tafsir mu’asir (modern). Sebagian kitab-kitb tersebut lebih terkenal dibandingkan dengan kitab yang lain kren bnyak beredar dikalangan pembaca.Adapun rincian kitab-kitab tersebut adalah:
  1. Kitab-kitab Tafsir bil Ma’sur yang Terkenal
-          Tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas
-          Tafsir Ibnu ‘Uyainah
-          Tafsir Ibnu Abi Haatim
-          Tafisr Abusy Syaikh bin Hibban
-          Tafsir Ibnu Atiyah
-          Tafsir Abul Lais as-samarqandi, Bahrul ulum
-          Tafsir Abu Ishaq, al kasyfu wal Bayan an Tafsiril Qur’an
-          Tafsir Ibnu Jarir at Tabari, Jamiul Bayan fit tafsir Al-qur’an
-          Tafsir Ibnu Abi Syaibah
-          Tafsir al-Bagawi, maalimut tanzil
-          Tafsir Abil Fida al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsirul qur’anul aziim
-          Tafsir as-sa’labi, al jawahirul Hisan fi Tafsiril qur’an
-          Tafsir Jalaludin as suyuthi, ad Daarul mansur fit tafsir bil Ma’sur
-          Tafsir asy Syaukani, Fathul Qadir
  1. Kitab-kitab Tafsir bir-Ra’yi yang terkenal
-          Tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Asam
-          Tafsir Abu Ali al-Juba’i
-          Tafsir Abdul Jabbar
-          Tafsir az-Zamakhsyari
-          Tafsir Fakhruddin ar-Razi
-          Tafsir Ibnu Furak
-          Tafsir an-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqaaiqut Ta’wil
-          Tafsir al-Khazin, Lubaabut Ta’wil fi Maanit Tanzil
-          Tafsir Abu Hayyan, al-Bahrul Muhiit
-          Tafsir al-Baidawi, Anwarut Tanzil wa Asraaratu Ta’wil
-          Tafsir al-Jalalain; Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suythi
-          Tafsir al-Qurtubi, al-Jami li Ahkamil Qur’an
-          Tafsir Abus suud, Irsyadul Aqlis Saalim ila Mazaayal Kitabil Kariim
-          Tafsir al-Alusi, Ruhul maa’ni fi Tafssiril Qur’anil aziim was sab’ii masaani
-           
  1. Kitab-kitab Tafsir yang Terkenal di Abad Modern
-          Tafsir Al-Jawaahir fi Tafsiril Qur’an, oleh Syeikh Tantawi Jauhari
-          Tafsir al-Manar, oleh Sayid Muhammad Rasi Rido
-          Tafsir Fi Zilalil Qur’an oleh Sayyid Qutub
-          Tafsir al-Bayani lil Qur’anil Kariim, oleh Aisyah Abdurrahman binti asy-Syati

  1. Kitab-itab Tafsir Fuqoha
-          Ahkamul Qur’an, oleh Jasass
-          Ahkamul Qur’an, oleh al-Kaya dan al-haras
-          Ahkamul Qur’an, Ibnul Araby
-          Al-Jami li Ahkamil Qur’an oleh Al-Qurtubi
-          Al-Iklil fi Istinbat Tanzil, oleh Asy-suyuti
-          At Tafsiratul Ahmadiyah fi ayanil Ayatisy Syar’iyah, oleh Mula Geon
-          Tafsiru Ayatil Ahkam, oleh Syaikh Muhammad as-Sayis
-          Tafsiru Ayatil Ahkam, oleh Syaikh Manna al-Qattan
-          Ammad Adwaa ul bayan, oleh Syaikh Muhammad asy-Syinqiti



Saat Aku dan Cepkur 'Berbatik Hijau' (II)


SAMBA, kisah yang kufikir tak pernah berujung walau harus ku gunakan air sungai Citarum yang mirip bajigur untuk menuliskanya diatas paping blok segi lima yang ada sekeliling Benda. Saking berharga dan mahalnya, sehingga tak dapat ku lukiskan dengan konkret.
            Kisah kami berlanjut pasca perginya Gunawan dan beberapa teman kami yang lain, yang dengan sengaja meninggalkan penjara suci. Alasan mereka bermacam-macam, ada yang karena benci sama sipir penjara, ada yang karena tak tahan dengan aturan disana dan ada juga yang disebabkan alasan anak TK, tak mau jauh sama mamah.
            Waktu berlalu, hari berganti dan hubungan kami dengan banat semakin mesra, karena dengan cara itulah kami mengundang rasa betah kedalam jiwa. Ada saja momen yang mengharuskan kami berkumpul dan berdiskusi. Pada pelajaran Sosiologi misalnya, pada pelajaran binaan Suami Mrs. Nurikeu yang cantik ini, kami diagendakan pergi ‘melancong’ ke kampung naga, dengan istilah formal bernama observasi. Seluruh dari kami diharuskan ikut, mempengaruhi nilai, istilah yang sering digunakan oleh guru demi mensukseskan misinya. Kamipun terpaksa ikut, meski harus ngantri di wartel Irham, toko milik Bu Ai guru nahwu yang paling kusuka sekaligus ibunda si Anne, hanya sebatas untuk menelpon orangtua kami, menanyakan kabar, sedikit berbasa-basi lalu menuju tujuan utama, minta dikirim duit!
            Kedekatan itu terwujud dengan dibentuknya pula ‘organisasi’ tak berpedoman di front banat, SEMUT namanya. Sampai detik ini aku tak tau apa artinya. Sepuluh Mualimma(u)t, spekulasiku sejak dulu, tapi kemudian tergugurkan jika mereka naik kelas ke kelas dua atau tiga. Tapi tak apalah, arti sebuah nama bagiku tidak penting, yang terpenting adalah mereka selalu ada dihatiku, terutama si Leli, gadis cantik asal Padaherang, anak Pak Nono yang selalu memanggilku ‘De Iqbal’, sehingga membuatku minder, seolah dianggap belum dewasa oleh beliau.
Tibalah kami pada suatu siang, dimana kami dihadapkan pada sebuah pilihan. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), pilihan wajib yang harus ditentukan sebelum naik ke kelas dua. Pilihan yang tak berguna menurutku setelah berfikir lintas tahun, buktinya banyak yang loncat jurusan ketika selesai pesantren. Si Aresa bin Kibe misalnya, pemuda cinta kekasih si Anggi ini ambil jurusan IPA, tapi melanjutkan kuliah di UGM (Universitas Gambar Maung) dengan konsentrasi studi Ekonomi Syariah.

            “ Kade pilih cing bener…..” Teriak Bu Imas, salah satu pengajar yang juga adik kandung dari Prof. Shiddiq Amin. Sosok  yang sangat kukagumi, retorikanya sangat baik, dia berhasil buktikan apa yang dikatakan Larry King, berbicara adalah mempengaruhi. Setiap kata-katanya dapat merasuk kedalam hati, termasuk sarannya  padaku untuk meninggalkan gadis yang kusayangi karena menurutnya telah dimiliki oleh santri kesayanganya, Sandi Ardiansyah.
            “Sok-sok, kitu wae lila….!” Bu Imas kembali berteriak dari ruang asatidz pada kami yang tengah berkumpul ditangga depan TU menuju Perpustakaan.
            “Lieur Bu….” Timpal si Ohim (nama aslinya Muhammad Irham) sambil nyengir dengan gaya khasnya.
            Dalam selembar kertas aku melihat Cepkur memilih kelas IPS tanpa fikir panjang. Lain halnya denganku yang harus menimbang berulang-ulang karena ingin sekelas dengan si Leli, tapi aku tak suka matematika dan kimia apalagi fisika. Senada dengan si Nanang dan si  Candi yang tengah sengit berdiskusi dengan bahasa Cirebon,meski berbisik-bisik karena saat itu jasus (intel) tengah merajalela.
            Geus ah gageh..gageh IPS wae jeh….!” Kata si Nanang memprovokasi kami yang tengah gundah. Si Irfan jelas tak terpengaruh karena sejak lama ia ingin masuk kelas IPA, mungkin hendak mengikuti jejak Ayahnya yang seorang mantri kesehatan. Bertolak belakang dengan saudara sepupunya si Sese yang tak berlama-lama untuk tentukan pilihan, IPS. Pria berbadan gempal ini memang termasuk kategori makhluk praktis dalam menjalani hidup. Prinsip hidupnya jalani yang mudah dan tinggalkan yang sulit, dan aku agak sepakat dengan hal itu.

            Aku faham mengapa Cepkur memilih IPS, ia sama sepertiku tak terlalu simpati dengan angka! Meski sebetulnya di IPS pun kami akan menemukan angka, tapi setidaknya angka itu ditambah kata ‘rupiah’, dalam pelajaran akuntansi yang membawa kami ke alam bawah sadar, seolah menjadi milyuner yang banyak harta dan asetnya.
            “Sayamah IPS we ah bos…” kata Cepkur tampak pasrah saat kutanya tentang pilihanya. Lain halnya dengan si Palupi, pria idealis yang satu ini dengan mantap memilih jurusan IPA, karena dia memang pintar, meski sering kehilangan sandal karena kurang ‘pintar’ menjaganya, sama halnya dengan si Kresna.
            Cepkur memang selalu terlihat semangat pada beberapa mata pelajaran IPS ketika masih di kelas satu muallimin, Sosiologi misalnya yang menuntut diskusi dan observasi. Kami sering disuruh keluar pesantren untuk berbincang dengan masyarakat sekitar, menyoal kondisi pesantren dari kaca mata mereka. Cepkur dan aku sangat menikmati masa-masa itu bahkan tak jarang ia berperan aktif untuk bertanya dan berbincang dengan masyarakat, meski dengan bahasa sunda yang agak terbata-bata dan sedikit agak kasar, mungkin karena kebiasaan menggunakan leter ‘B’ di pesantren. Tak jarang pula Cepkur munculkan ide brilliant ketika observasi.
“Urang ka kota yu ah….” Katanya sambil pura-pura memberhentikan angkot dan tertawa girang setara dengan anak kecil yang dikasih permen oleh Ibunya.
Observasi itu membawa hikmah besar bagi kami, disamping bisa menghirup udara segar, kami juga bisa bershodaqoh pada Bi Tati pemilik toko makanan bernama unik, ‘Bengkel Perut’. Tapi meski begitu tak jarang kami harus menelan pil pahit, bagaimana tidak hampir semua warga sekitar Benda yang kami tanya beranggapan miring tentang pesantren, biasalah dinamika sosial, begitu guru Sosiologi kami menyebutnya.

Kami berhasil menembus kelas satu dan naik ke kelas dua, itupun setelah melalui proses pemilihan jurusan yang cukup rumit karena mesti menyesuaikan dengan nilai rapor kami di kelas satu.
“ Nu peunteun pelajaran IPAna alus asup ka IPA, nu bututmah di IPS we…” petuah Bu Imas sebelum membagikan kertas yang sudah ku ceritakan tadi. Bahasa yang sebenarnya kurang kusuka, paradigma yang diskriminatif menurutku. Sejalan dengan sementara  orang yang menganggap bahwa IPA jauh lebih baik dari IPS. Tapi menurutku tidak, buktinya presiden Rijalul Ghad (OSIS) di angkatan kami dari IPS!
Bersambung…..




Masih untuk Sang Inspirator…
Cecep Kurnia Nizwar…